Lebaran Momentum Silaturrahmi Nasional

1
92
Holikin, S.Pd.I

Oleh: Holikin, S.Pd.I

Di Indonesia, hari raya umat Islam dikenal dengan istilah “lebaran”. Terminologi lebaran pada sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, yaitu diambil dari kata “lebar”. Kata yang bermakna serupa (muradif) dengan kata “lebar” adalah bebas, lepas, dan sebagainya. Jadi, secara terminologis lebaran berarti “bebas atau lepas dari salah dan khilaf”. Atau dengan kata lain, lebaran adalah sebuah momentum dimana kita saling memaafkan, sehingga terbebas dan terlepas dari dosa atau kesalahan yang pernah kita perbuatnya di masa lalu.

Berdasar pada pengertian di atas, berarti hari lebaran merupakan hari di mana manusia (khususnya umat muslim) saling memaafkan atas kesalahan-kesalahan di antara mereka. Untuknya maka, hari raya (lebaran) biasanya dan sering diisi dengan bershilaturrahmi di antara handai taulan.

Adapun shilaturrahmi berarti menyambung famili (keluarga). Kata shilaturrahmi sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu kata “shilat” bermakna “menyambung” atau “menghimpun” dan yang terakhir adalah kata “rahmi” yang berarti “kasih sayang”, kemudian berkembang menjadi “peranakan” atau “keturunan (keluarga)”.

Dalam kaedah gramatika Arab, kata “shilaturrahmi” terbentuk dari susunan idhafah (mudhaf dan mudhaf ilaih). Di balik susunan (tarkib) tersebut terdapat huruf khafadh /jir berupa “ila” yang disembunyikan, yang apabila ditampakkan menjadi “shilatu ila rahmi” (menyambung pada keluarga). Artinya, shilaturrahmi lebih dekat pada pengertian, “aktifitas berkunjung ke sanak kerabat dengan tujuan menyambung dan mempererat hubungan kekerabatan”.

Nah, pengertian yang dipaparkan di atas mengarah pada sebuah tindakan dan perilaku menyambung apa yang putus. Artinya, bahwa hanya yang terputus dan yang terseraklah objek yang dituju oleh kata “shilaturrahmi”.

Dr. Quraisy Shihab menegaskan dalam karyanya “Lentera Hati”, menurutnya yang demikian inilah yang dinamakan hakikat shilaturrahmi. Berdasar pada sabda Nabi Saw berikut ini, “Tidak bershilaturrahim (namanya) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi (dinamakan bershilaturrahim, adalah) yang menyambung apa yang putus (dari handai taulan).” (HR. Bukhari).

Seminggu terakhir ini, selepas kontestasi politik berlangsung. Ditambah dengan konstelasi suhu politik yang memanas pasca pengumuman KPU terkait perolehan suara pemilihan presiden (pilpres). Maka, lebaran nanti adalah memontum merajut shilaturrahmi nasional.

Hal demikian menjadi penting, karena sedikitnya berdasar pada 3 (tiga) alasan. Pertama, lebaran adalah budaya kumpul-kumpul yang tidak ada di negara manapun selain Indonesia. Maka, untuk meredam dan mengademkan tensi politik yang memuncak tersebut, kiranya budaya kumpul-kumpul ini adalah momentum yang tepat guna memeluk antar dua kubu dalam skala nasional.

Kedua, perseteruan dua kubu ini berlanjut pada perkelahian antara pendukung keduanya. Maka, diawali dari silaturrahmi antar elite, kiranya mampu menyatukan mereka (yang di bawah) yang terserak. Sebab, silaturrahmi atau menyambung yang terputus yang perlu diupayakan saat ini. Yang jauh, atau mereka yang (dengan tidak sengaja) selama ini pernah kita musuhi, mestinya kita dekatkan dan kembali kita eratkan. Kuncinya, dimulai dari jabat tangan antar elite yang di atas.

Ketiga, apalagi sebelum berlebaran kita telah ditempa dengan sebulan penuh melaksanakan agenda berpuasa. Sementara makna literal “puasa” adalah menahan (al-imsak). Menahan diri dari memprovokasi, menahan menebar hoax, tentu pula menahan agar tidak terpancing perilaku yang mengarah pada perkelahian. Bahkan, Nabi Saw telah memberikan satu nasehat, ketika ada salah seorang yang tak bertanggung jawab mengajak untuk berkelahi, maka cukuplah dengan lantang menjawab, “Maaf, saya sedang puasa!” Artinya, sedang menahan diri dari perilaku-perilaku yang tidak sepantasnya.

Mengingat lebaran idul fitri sebuah kata yang dibentuk dari kata “Id” yang berarti “kembali” dan kata “Fitri” yang bermakna “suci”. Maka, idul fitri jelas sebuah moment yang pas untuk kita benar-benar kembali ke jalan yang suci, yaitu jalan yang diridhai oleh Allah Swt, ialah jalan persatuan. Sebagaimana firman Allah Swt, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an wala tafarraqu..” (berpeganglah semuanya pada tali [agama] Allah, dan janganlah terpecah belah).

Lebaran idul fitri bukan sebuah tradisi tahunan tanpa nilai. Tradisi Idul Fitri memiliki dimensi langit (hubungan manusia dengan Penciptanya) dan secara bersamaan ia memiliki nilai dimensi bumi (hubungan antar sesama manusia). Syair Arab mengatakan, “Al-‘aid laysa liman labisa al-jadid innamal ‘aid liman tha’ata tazid.” (lebaran tidaklah teruntuk orang-orang yang mengenakan pakaian serba baru, akan tetapi lebaran diperuntukkan bagi orang-orang yang intensitas taatnya bertambah).

Taat pada Allah Swt memiliki pengertian yang amat luas lagi melimpah. Termasuk salah satu bentuk dari taat, adalah menahan diri dari terbelahnya keutuhan bangsa. “Al-‘aid laysa liman tajammala bi al-rukub innamal ‘aid liman ghufira lahudz dzunub..’ (lebaran bukanlah buat orang-orang yang memperindah kendaraan, akan tetapi buat orang-orang yang dosa-dosanya diampuni). Lebaran jelas bukan mempersolek diri secara lahiriah, ia adalah momentum mempercantik batin menjauh dari ragam penyakitnya, seperti iri hati, dengki, permusuhan, dan seterusnya.

Kehidupan glamour, gaya hidup masyarakat yang hedonis, dan materialis, kemudian ditambah dengan perbedaan pilihan politik yang cenderung pada sikap antipati terhadap kebersamaan, apalagi berpolitik pragmatis, semua