Harga Tembakau Anjlok, Kabid Perkebunan: Itu Kesalahan Petani

Petani tembakau madura
Istimewa

maduraindepth.com – Isu nasional Bea dan Cukai akan dinaikkan pada awal tahun 2020 mendatang. Ternyata merembet dengan harga panen tembakau petani yang mulai anjlok.

Hal itu dirasakan petani Dusun Paninggin, Desa Giring Barat, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Abdurrahman. Rahman mengeluh saat panen tembakau miliknya menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.

“Semula, tahun sebelumnya harga tembakau masih normal, namun tahun ini harga tembakau malah anjlok parah hingga turun 25 persen,” kata Abdurrahman pada maduraindepth.com, Senin (16/9/2019).

Dirinya juga memilih pasrah jika harga tembakau memang benar-benar turun tidak normal pada umumnya. “Ya mau gimana lagi, kita pasrah saja sebagai petani, dari pada tidak laku mas, ya mending kami ambil saja,” terangnya dengan nada lesu.

Akan keadaan itu, Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep, Hamid angkat bicara.

Pihaknya menjelaskan jika anjloknya harga tembakau semata-mata adalah kesalahan petani. Sebab cara memanen tembakau oleh petani dinilainya tidak benar.

“Sebenarnya ini juga kesalahan petani, sebab para petani memanen tembakaunya bukan pada waktunya. Artinya masih muda sudah dipanen, alasannya takut tembakau keburu mengering (menjadi karosok; Madura, red),” ungkapnya.

Hamid menambahkan, selain kesalahan petani, pabrik produksi rokok di Sumenep juga macet keuangan. Sehingga berdampak dengan anjloknya harga tembakau itu sendiri.

“Artinya, di Sumenep hanya ada dua pabrik rokok yang mengajukan izin untuk membuka pembelian tembakau. Namun satu pabrik rokok sampai satu Minggu ini masih macet karena masalah dalam keuangan. Begitu laporan yang saya dapatkan,” tuturnya.

Bahkan, kata Hamid, pabrik produksi rokok yang macet itu juga menjadi alasan sebab harga tembakau turun tahun ini. “Maka ini kemungkinan juga mempengaruhi kepada harga tembakau itu, kan bandol jadinya hanya terfokus pada satu pabrik saja. Sedangkan petani tembakau sangat banyak,” tambahnya. (MR/MH)