Bawa Pesan Ulama BASSRA, Bupati Sampang Siap Perjuangkan Garam Sebagai Kebutuhan Pokok

Bupati Sampang Slamet Junaidi bersama Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) di Pendapa Trunojoyo, Senin (23/5) malam. (Foto: Prokopim Pemkab for MI)

maduraindepth.com – Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA), Senin (23/5) malam menemui Bupati Sampang Slamet Junaidi di Pendapa Trunojoyo. Kedatangan sejumlah ulama itu membahas soal garam dan tembakau Madura.

Sekjen BASSRA, KH Syafik Rofi’i mengungkapkan, kunjungan dirinya bersama sejumlah kiai untuk membantu para petani. Akibat regulasi harga yang tidak tetap, harga garam di Madura masih tidak menguntungkan petani.


“Meskipun nantinya regulasi diatur pemerintah para kiai bertekad mengusulkan agar memasukkan kembali garam jadi salah satu kebutuhan pokok,” ucapnya.

Semangat itu, kata Rofi’i, disebabkan oleh dicabutnya regulasi tentang penetapan harga garam. Akibatnya, petani tembakau dan garam kian susah dengan harga yang tak menentu.

“Semoga Bupati Sampang menyampaikan keinginan ulama ini ke pemerintah provinsi dan pusat untuk memasukkan kembali garam ke dalam kebutuhan pokok sehingga harga bisa diatur,” ungkapnya.

Menurutnya, kunjungan BASSRA ke Bupati Slamet Junaidi karena Sampang merupakan Kabupaten penghasil garam terbesar di Madura. Maka dari itu, patut kiranya garam harus kembali masuk sebagai kebutuhan pokok.

“Semoga garam bisa masuk sebagai kebutuhan pokok, sehingga petani lebih sejahtera soal harga,” harapnya.

Sementara, Bupati Sampang Slamet Junaidi mengapresiasi niat baik para ulama BASSRA yang ingin menyejahterakan petani tembakau dan garam di Madura. Dukungan tersebut, kata Slamet Junaidi, merupakan cambuk kepada kepala daerah agar berfikir lebih keras untuk bisa menjaga stabilitas harga tembakau dan garam.

Baca juga:  Harga Anjlok, Petani Garam di Pamekasan Kerja Sampingan Jadi Nelayan

“Niat yang sama untuk membangun Madura secara keseluruhan terus dilakukan. Kolaborasi antara empat Kabupaten terus dibangun, dan itu terdapat dalam setiap kebijakan yang diambil,” ujarnya.

Slamet Junaidi menyebutkan, ada beberapa pekerjaan rumah untuk mengatasi persoalan garam. Salah satunya dengan mendongkrak HET garam. Untuk itu, pihaknya akan berkomunikasi dengan Pemerintah Pusat sebagai pemangku kebijakan.

Guna merealisasikan niat baik itu, menurut dia, perlu adanya perusahaan dan pabrik yang berbahan baku garam di Madura, khususnya di Kabupaten Sampang. Karena itu, pihaknya siap menjamin keamanan dan perijinannya jika ada investor yang membangun gudang itu.

“Itu akan ada efek penyerapan tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran nantinya,” ucapnya.

Persoalan tembakau di Madura, sambung dia, belum bisa diatasi secara maksimal jika hingga kini belum ada gudang. Akibatnya, tembakau para petani ditampung di kabupaten lain, dan itu berpengaruh terhadap harga jual.

“Belum ada gudang tembakau yang strategis. Seiring waktu, empat Kabupaten di Madura siap membuat regulasi yang berpihak pada petani dengan kebersamaan seluruh ulama,” pungkasnya. (Alim/AW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here