Terdapat Makam Empat Raja Berpengaruh di Asta Tinggi Sumenep – Halaman All

Komplek pemakaman raja-raja asta tinggi sumenep
Komplek pemakaman raja-raja di Asta Tinggi, Sumenep. (Foto: IST)

maduraindepth.com – Kabupaten Sumenep tidak hanya memiliki destinasi wisata alam yang memukau. Tetapi, di Kota Keris ini, juga terdapat sejumlah destinasi wisata religi. Salah satunya, adalah Asta Tinggi Sumenep.

Asta Tinggi, merupakan kompleks pemakaman para raja serta keluarga kerajaan di Keraton Sumenep. Destinasi wisata religi yang satu ini, tidak pernah sepi dari pengunjung untuk berziarah. Terutama, saat momen libur lebaran seperti sekarang.

Bahkan, peziarah yang datang, bukan sekadar dari dalam daerah. Tetapi, sebagian banyak di antaranya, merupakan wisatawan dari luar kabupaten. Termasuk juga, banyak yang berasal dari luar Madura.

Pembangunan Kompleks Pemakaman Asta Tinggi

Asta Tinggi, berlokasi di dataran tinggi alias perbukitan Desa Kebonagung, Kecamatan Kota, Sumenep. Posisinya, berjarak sekitar 2,14 kilometer dari Masjid Jamik Sumenep atau alun-alun di jantung kota.

Kompleks pemakaman para raja dan keluarga Keraton Sumenep ini, pertama kali dibangun pada tahun 1750. Inisiatif pembangunan Asta Tinggi, digagas pada masa kejayaan Pangeran Rama alias Pangeran Cokronegoro II.

Sebelum pembangunan Asta Tinggi dilakukan, lokasi pemakaman Raja-Raja Sumenep terpencar di berbagai tempat. Seperti, makam Joko Tole terletak di Dusun Sa’asa, Desa Lanjuk, Kecamatan Manding, Sumenep. Kemudian, Pangeran Joharsari dimakamkan di Desa Tanah Merah, Kecamatan Saronggi, Sumenep.

Selanjutnya, Pangeran Siding Puri dimakamkan di Desa Bangkal, Kecamatan Kota, Sumenep. Berikutnya, pemakaman Raden Kanduruan, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan berada di Asta Karang Sabu, Kelurahan Karang Duak, Kecamatan Kota, Sumenep.

Pembangunan Asta Tinggi, pada mulanya dimulai dari kompleks pemakaman di sisi bagian barat. Bangunan kompleks pemakaman keluarga petinggi keraton itu, tidak hanya tampak megah. Tetapi, corak arsitekturnya, juga terlihat sangat indah.

Melihat penampakan bangunan, Asta Tinggi bercorak arsitektur Hindu Jawa. Hal itu, dapat dilihat dari corak arsitektur gerbang pintu masuk kompleks pemakaman sisi barat.

Berdasar Sumber yang dihimpun maduraindepth.com, corak arsitektur bangunan tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi kejayaan keraton pada masa kepemimpinan Pangeran Rama. Diketahui, Pangeran Rama memimpin Kerajaan Sumenep di bawah Pemerintahan Mataram.

Baca juga:  Doakan Para Sesepuh, Jala Sottra Gelar Haul di Asta Tinggi Sumenep

Sementara itu, di sekeliling kompleks pemakaman terdapat bangunan pagar berupa tembok yang sangat kokoh dan tinggi. Konon, tembok itu dibangun tidak menggunakan semen atau batu gamping sebagai perekat.

Tetapi, sekadar disusun dengan rapi secara manual. Uniknya, meskipun tidak menggunakan perekat, tembok yang mengelilingi kompleks pemakaman Asta Tinggi masih tampak sangat kokoh sampai sekarang.

Pembangunan kompleks pemakaman Asta Tinggi, masih dilanjutkan pada masa kepemimpinan Raja Sumenep berikutnya. Yaitu Penembahan Sumolo alias Pengeran Notokusumo I alias nama aslinya Asiruddin.

Berbeda dari corak arsitektur pembangunan sebelumnya, untuk kompleks pemakaman Asta Tinggi di sisi timur, mengandung seni ciri khas Cina, Eropa, Arab dan Jawa. Corak arsitektur tersebut, bisa dilihat dari penampakan bangunan pintu gerbang pemakaman dan kubah pemakaman.

Sementara itu, Panembahan Sumolo atau Pangeran Notokusumo I, pada akhir hayatnya juga dimakamkan di dalam bangunan berkubah tersebut.

Tidak selesai sampai di situ, pembangunan kompleks pemakaman Asta Tinggi masih dilanjutkan kembali oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Dia adalah putra dari Panembahan Sumolo atau Notokusumo I dengan Raden Ajeng Maimunah dari Semarang.

Pembangunan Asta Tinggi yang dilakukan Pangeran Notokusumo II, sempat dicanangkan sebagai tahap akhir. Namun, ternyata hal tersebut masih dilanjutkan oleh Pangeran Moh Shaleh alias Pangeran Letnan Kolonel Kusuma Sinerangingrana atau biasa disebut Pangeran Le’nan.

Sedangkan, nama asli Pangeran Letnan atau Le’nan yang diberikan oleh keluarga keraton, adalah Raden Bagus Mohammad Hamzah atau Pangeran Aria Suryasinerrangengrana. Pembangunan Asta Tinggi yang dilakukan olehnya, menjadi pembangunan terakhir yang terawat kokoh hingg sekarang.

Makam Raja-Raja Sumenep di Asta Tinggi

Kompleks pemakaman Asta Tinggi terbagi menjadi dua. Pertama, kompleks pemakan sisi sebelah barat. Terdapat tiga raja yang dimakamkan di kompleks tersebut. Meliputi Raden Panji Pulangjiwo, Pangeran Jimat dan Bindara Saod. Sedangkan di kompleks pemakaman sisi bagian timur, yaitu makam Panembahan Notokusumo I alias Pangeran Asiruddin.

Asta tinggi sumenep
Pemakaman Asta Tinggi, Sumenep. (Foto: IST)

1. Raden Panji Pulangjiwo

Raden Panji Pulangjiwo alias Raden Tumenggung Pulang Jiwa, memimpin Kerajaan Sumenep pada tahun 1684 – 1702. Pada masa kecilnya, dia lebih dikenal dengan nama Raden Kaskiyan. Dia adalah putra dari Pangeran Karangantang, Sampang. Sedangkan, dalam silsilah Keraton Sumenep, Pangeran Karangantang dikenal dengan sebutan Pangeran Ragintang alias Syeh Rabet.

Baca juga:  Momen Bupati Sumenep Borong Dagangan Warga Usai Berziarah di Asta Tinggi

Silsilah di atasnya, nasab Syeh Rabet bersambung kepada Pangeran Gebak atau Pangeran Kebak. Dia adalah cucu Sunan Giri dari garis keturunan anaknya, Sunan Kulon. Terlepas dari itu, Pangeran Panji Pulangjiwo merupakan menantu Tumenggung Yudonegoro alias Raden Bugan atau Pangeran Macan Woeloeng, Raja Sumenep yang berkuasa pada tahun 1671 – 1684.

2. Pangeran Jimat

Pangeran Jimat menyandang gelar Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III. Dia menjabat sebagai Raja di Keraton Sumenep pada tahun 1737 – 1750. Pangeran Jimat, merupakan putra dari Pangeran Ario Cokronegoro II alias Pangeran Rama.

Konon, pada masa kepemimpinan Pangeran Jimat alias Ario Cokronegoro III, sempat terjadi perang saudara dengan Raden Asral alias Pangeran Ario Adikara II. Diketahui, Pangeran Ario Adikara II merupakan paman Pangeran Jimat alias saudara Pangeran Rama.

Pangeran Jimat dan Pangeran Ario Adikara II berseteru memperebutkan keris pusaka peninggalan Adikara I, Adipati Pamekasan. Berdasar keyakinan yang dipegang teguh oleh Pangeran Jimat, keris pusaka tersebut seharusnya diwariskan kepada ayahnya, Pangeran Rama.

Sebab, Pangeran Rama merupakan putra tertua Adikara I. Sedangkan, Ario Adikara II, adalah putra ketiga alias paling muda di antara tiga bersaudara. Yaitu Pangeran Rama, Raden Sasena dan terakhir Raden Asral alias Ario Adikara II.

Berbekal ketangkasan dan kepiawaiannya dalam strategi perang, Pangeran Jimat bersama pasukan Keraton Sumenep berhasil mengalahkan Ario Adikara II. Dari hal tersebut, maka wilayah kekuasaan Keraton Sumenep sempat melebar ke wilayah Pamekasan.

3. Temenggung Tirtonegoro (Bindara Saud)

Bindara Saud alias Raden Temenggung Tirtonegoro merupakan Raja Keraton Sumenep yang berkuasa pada tahun 1750 – 1762. Dia adalah putra Raden Abdullah Batu Ampar Timur, alias Pengeran Cokronegoro I, Raja Keraton Sumenep pada tahun 1702 – 1705.

Baca juga:  Ketua P2KD Manga'an Bangkalan Jadi Korban Pembacokan

Pangeran Cokronegoro I, adalah putra Kiai Abdul Qidam alias Pangeran Pandian. Sedangkan ibu Bindara Saod, adalah Nyai Nurima. Dia merupakan keturunan Pangeran Bukabu atau Raden Notoprojo, Raja ke-7 di Keraton Sumenep.

Diceritakan, suatu malam Nyai Nurima sedang melaksanakan salat tahajud. Bersamaan dengan itu, Pangeran Cokronegoro I baru saja tiba di rumah. Kemudian, Pangeran Cokronegoro I mengetuk pintu sembari mengucapkan salam kepada istrinya, Nyai Nurima.

Namun, karena Nyai Nurima sedang salat tahajud, maka salam tersebut tidak dijawab. Tiba-tiba, terdengar suara anak laki-laki kecil yang menjawab salam dari Pangeran Cokronegoro I.

Setelah selesai salat, Nyai Nurima membukakan pintu untuk suaminya. Seketika itu, Pangeran Cokronegoro I alias Raden Abdullah bertanya tentang suara anak laki-laki kecil yang menjawab salam darinya.

Nyai Nurima menjelaskan, bahwa sebenarnya yang menjawab salam tadi adalah bayi yang masih berada di dalam kandungannya. Selang beberapa bulan kemudian, ternyata bayi yang lahir dari rahim Nyai Nurima berjenis kelamin laki-laki.

Maka dari itu, bayi tampan tersebut diberi nama Muhammad Saud. Kata “Saud” dalam nama itu, diserap dari bahasa Madura “Saot” atau “Nyaot” yang artinya menjawab. Hingga usia dewasa, sosok laki-laki tersebut akrab disapa Bindara Saud atau Bindara Saod.

4. Panembahan Notokusumo

Raja Keraton Sumenep yang juga dimakamkan di Asta Tinggi adalah Panembahan Notokusumo I alias Pangeran Siruddin. Masa kejayaannya, berlangsung dari tahun 1762 – 1811.

Pangeran Asiruddin, merupakan putra dari Raden Tumenggung Tirtanegara alias Bindara Saod dengan Nyai Izzah. Saat baru menjabar sebagai Adipati Sumenep, Pangeran Asiruddin diberi gelar Pangeran Natakusuma I oleh Gubernur Jenderal Petrus Albbertus Vander Parra di Semarang.

Setelah beberapa tahun kemudian, gelar tersebut berganti menjadi Panembahan Somala. Bahkan, bersumber dari sebagian literatur yang lain, Pangeran Asiruddin juga mendapatkan gelar Sultan Sumenep. (bus/*)

Sumber : id.wikipedia.org; jatim.nu.or.id; sumenepkab.go.id; duniasantri.co; dan matamaduranews.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner auto