Tradisi Lebaran Ketupat Mentradisi Secara Turun Temurun

Ketupat
Warga Kampung Karang Kemasan, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang Kota saat membuat ketupat. (Foto : RIF/MI)

maduraindepth.com – Dengan berakhirnya bulan Ramadhan 1441 Hijriyah, kini umat Islam menyambut bulan Syawal yang ditandai dengan perayaan hari raya Idul Fitri. Setelah Idul Fitri, umat Islam disunahkan berpuasa Syawal selama enam hari.

Biasanya, usai menjalankan puasa sunah enam hari setelah Idul Fitri, umat Islam di Indonesia khususnya Madura mengadakan lebaran ketupat. Hal ini telah menjadi tradisi yang turun temurun.


Terbukti, hingga kini masih terlihat disejumalah tempat masih banyak warga yang mengumpulkan janur dan merangkainya menjadi ketupat.

Seperti yang dilakukan oleh Sumriyah (52), warga Kampung Karang Kemasan, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura. Didampingi saudaranya Darmi Swarsih (51), dia tampak asyik membuat ketupat.

Saat ditemui maduraindepth.com Sabtu (30/5) kemarin, Sumriyah mengaku lebih memilih membuatnya sendiri ketimbang membelinya. Menurutnya, membuat ketupat sudah menjadi kebiasaan sejak dia masih kecil.

“Kebiasaan dari kecil yang telah diajarkan oleh orang tua yang sudah menjadi turun temurun, setiap hari raya ketupat kami membuatnya sendiri, tidak membelinya di pasar atau pun ke orang lain, karena ini sudah menjadi tradisi,” katanya sedikit menceritakan.

Konon, lebaran ketupat ini dicetuskan oleh Sunan Kali Jaga sebagai perayaan setelah shaum sunah Syawal. Ketupat dibuat untuk diberikan kepada kerabat, yang filosofinya, memiliki arti kata kupat.

Baca juga:  Sultan Raden Abdul Kadir Bangkalan, Pendobrak Tradisi Kraton yang Ahli Strategi

“Artinya adalah ngaku lepat, dalam bahasa Jawa yang artinya mengaku bersalah,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh saudaranya, Darmi Suwarsih. Menurutnya, tradisi ini tidak bisa dihilangkan dan sudah menjadi adat ketimuran dalam keluarga besarnya. Dimana setiap menjelang hari Raya Ketupat, dirinya beserta keluarganya membuat ketupat secara bersama-sama.

“Sebagian untuk perayaan hari raya ketupat, dalam perayaan itu ketupat ini dimakan bersama-sama dengan beberapa lauk dan kuah, sementara sebagian lagi dibagi-bagikan keluarga yang lain,” cetusnya.

Dijelaskannya, dalam pembuatan ketupat ini, dirinya tidak menggunakan kompor, cukup menggunakan tungku api dan kayu bakar. Sehingga rasa dari ketupat, katanya, lebih enak.

“Dan memasaknya pun sudah tradisi keluarga kami, memasak ketupat dengan tungku api dan kayu bakar,” tutupnya. (RIF/MH)