Pir-piran: Rindu Yang Telarang

Lebaran Ketupat Tellasan Topa'
Ketupat. (FOTO: muhlis/MI)
Oleh: Faisol Ramdhoni*

maduraindepth.com – Tellasan Topa’ atau lebaran ketupat merupakan peristiwa penting bagi warga Madura, yang dimeriahkan pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri.

Di Sampang, Tellasan Topa’ biasanya dimeriahkan tradisi Pir-Piran. Tradisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.


Warga dari berbagai usia keluar rumah untuk merayakan tellasan topa’ dengan mengendarai alat transportasi tradisional yang ditarik oleh seekor kuda itu.

Konon, Istilah pir-piran ini berasal dari Kata Pir yang sebenarnya berasal dari kata pir roda pedati yaitu besi lengkung penyanggah roga. Disebut pir-piran, karena “kendaraan” yang ditumpangi menggunakan roda yang ber-pir.

Tapi kini pedati sudah musnah. Warga lebih banyak menggunakan dokar sebagai penggantinya. Bahkan sebagian warga menggunakan kendaraan bermotor roda tiga jenis dorkas.

Sebenarnya sungguh sangat eman jika tradisi pir-piran yang cukup menyenangkan ini dilarang tahun ini. Corona telah membuatnya harus tenggelam dalam dalih mencegah kerumunan dan penyebaran.

Sementara, manten dengan segenap orkesnya masih ramai dipadati warga. Tepi Pantai Camplong menjelma menjadi Pawai Puluhan Mobil dan Motor. Serta kerumunan-kerumunan massa lainnya masih saja ada.

Tentu sebagai warga yang baik harus patuh pada kebijakan. Meski terpaksa memendam segunung rindu pada tradisi kala kecil yakni rindu Pir-Piran.

Padahal, Pir-Piran ini bisa dikemas sebagai ” Car Free Day” nya Telllasan Topak di Sampang dan bisa menjadi icon budaya sendiri.

Baca juga:  Virus Corona dalam Matematika Kekuasaan

Selamat Tellasan Topa’! (*)