Pasir di Sumenep Menjadi Obat Penangkal Penyakit

0
88
Pasir Sumenep jadi obat
Seorang anak yang ingin beristirahat di kamar tidurnya yang berisi pasir. (Foto: MR/MI)

maduraindepth.com – Kabupaten Sumenep, adalah Kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Madua, Jawa Timur (Jatim). Tak ayal, jika kebanyakan orang menyebutnya kota timurnya Madura.

Selain memiliki banyak destinasi wisata, Sumenep juga kaya akan pulau-pulau yang mengandung banyak sumber daya alam. Dari sekian banyak destinasi tersebut, ada hal unik yang sejak dulu sampai saat ini masih berkembang mengenai tradisi, kultur, dan budayanya.

Jurnalis maduraindepth.com mencoba menelusuri jejak 25 kilometer ke arah utara simpang timur, dari titik pusat kota Sumenep menuju pantai yang tak asing lagi bagi masyarakat Madura khususnya, yaitu Pantai Lombang (Lombang Beach).

Di Sumenep, pantai yang terkenal dengan destinasi wisata para Wisatawan Manca Negara (Wisman) ini ada dua objek, yakni Pantai Slopeng serta Pantai Lombang. Namun, bukan wisata Pantai Lombang maupun Salopeng yang menarik hati, melainkan kawasan Kampung Pasir.

Jurnalis maduraindepth.com terus menepaki jejak untuk mengintip kehidupan masyarakat Kampung Pasir. Tradisi unik dari sebuah pasir yang dipercaya menyembuhkan dan menghindari berbagai penyakit.

Tradisi unik ini masih cukup mendominasi. Ada beragam tradisi sosial yang melekat dan terpelihara baik. Salah satunya tidur beralaskan pasir yang dipercaya dapat menghindari segala macam penyakit.

Tradisi beralaskan kasur atau tidur di kasur pasir ini hanya ada di Kampung Pasir, tepatnya di Kecamatan Batang-Batang. Sedikitnya, Kampung Pasir di Kecamatan Batang-Batang itu ada tiga Desa yang memelihara tradisi unik ini.

Masing-masing ada di Desa Legung Barat, Desa Legung Timur, dan Desa Dapenda. Diketahui, geografis ditiga Desa ini berada di sekitar pesisir, dengan rumah penduduk kampung berdampingan serta bersebelahan dan menyatu jadi pemukiman.

Leluhur dari keturunan mereka, tentu sudah mendahului mengenal tradisi tidur beralaskan pasir. Selain tradisi tidur di kasur pasir, warga juga memiliki usaha berbisnis tanaman bonsai. Tanaman ini dikirim untuk dipasarkan ke daerah luar Madura, seperti Malang, Surabaya, dan Jakarta.

Ketika masuk ke Kampung Pasir, kondisi pepohonan yang rindang akan dijumpai, disuguhkan dengan pemandangan tumbuhan pohon kelapa. Apalagi, angin segar dari pantai menjadikan suasana semakin sejuk dan dingin.

Kampung Pasir sendiri sampai saat ini dipimpinan Suku Adat. Ada beberapa tokoh masyarakat Desa yang membantu jurnalis maduraindepth menggali data lebih dalam, mengkomunikasikan dengan Suku Adat agar bisa ke Kampung Pasir.

Sebab, setiap Kampung Pasir suku adatnya dipimpin oleh orang yang berbeda. Akhirnya, seorang tokoh Desa memutuskan sampel peliputan jurnalis maduraindepth ke Kampung Pasir di Dusun Lebak dan Dusun Tenggina, Desa Depanda.

Dua dusun dalam satu perkampungan ini dipimpin suku adat, bernama Satrayu (50). Di kampung ini, jumlah penduduknya kurang lebih 500 sampai 600 orang.

Aktifitas kesehariannya menjadi buruh nelayan, dan pedagang. Sebagian pula jadi perantauan mencari pekerjaan di luar daerah, seperti Jakarta, Bali, dan Kalimantan.

Menariknya lagi, rumah adat Madura di kampung ini masih kokoh dan terbangun baik, alasnya banyak direnovasi dengan keramik. Pola struktur bangunan tak tampak sedikit pun ada yang rusak, baik itu dinding, maupun atap rumah.

Pasir di sekeliling halaman rumah jadi ikon adat istiadat yang sudah ada mulai sejak dulu. Di emperan rumah debu pasir yang berhamburan tidak dianggap sebagai kotoran, melainkan sebagai terapi obat yang dipercaya menghindari penyakit.

Di kampung ini, setiap rumah memiliki pasir sebagai tempat mereka tidur dan bersantai bersama keluarga. Teras rumah warga di kampung ini sulit ditemukan ada kursi tamu.

Walau tak ada meja tamu, namun adanya pasir menjadi pengganti kursi dan meja, mereka menganggapnya lebih nyaman dan tenang. Orang yang hendak bertamu biasanya duduk di bawah dengan menggunakan alas hambal. Namun sebagian ada yang dipersilakan duduk langsung di atas pasir.

Bagi penduduk kampung ini, benda bumi seperti pasir tidak bisa diremehkan. Pasir dipercaya memiliki efek relaksasi dan juga dapat menyembuhkan penyakit, diantaranya, gatal-gatal di kulit, keluhan nyeri punggung, pegal linu, dan penyakit rematik.

“Tidur di atas pasir bisa lebih nyenyak dibandingkan dengan kasur. Kalau tidak beralas pasir, tidurnya tidak nyenyak, sekali pun tidur di atas kasur,” terang penghuni Kampung Pasir, Bangso (60), saat ditemui media ini, Sabtu (25/1).

Dengan usia yang tak lagi muda, tidak menyurutkan semangat Bangso dalam menafkahi keluarga. Solusinya, harus sehat jasmani dan rohani, terapi menyehatkan itu, didapatkan dengan berterapi di atas pasir.

Akan tetapi, pasir yang digunakannya pun bukan sembarang pasir, melainkan ada pasir pilihan tertentu. Biasanya, pasir yang digunakan sebagai alas diambil dari Gunung Pasir di desa Legung Barat dan Pantai Lombang.

Pasir ini seperti pasir kristal, berwarna putih gading dan tidak lengket di badan sekalipun dalam kondisi basah. Sebelum pasir digunakan, olahan terlebih dahulu pasir diayak untuk memastikan tidak ada batu atau benda berbahaya lain di dalamnya.

Kemudian, pasir dibersihkan lalu dijemur dan disaring untuk menghilangkan lembab dari kandungan air. Menurut Bangso, masyarakat di sekelil