Perahu Bermuatan Sembako Tenggelam, Awak Kapal Ditemukan Meninggal

perahu tenggelam pulau giliraja aeng panas pragaan sumenep
Perahu yang tenggelam usai dievakuasi ke perairan Pulau Giliraja, Giligenting, Sumenep. (Foto: IST)

maduraindepth.com – Perahu fiber jenis jukong bermuatan sembako yang berlayar dari Pelabuhan Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, menuju Pesisir Beringin, Desa Banmaleng, Pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, dinyatakan tenggelam usai hilang kontak sejak Ahad (9/7). Perahu berukuran 2×8 itu dinahkodai Sumarwi, 56, warga Desa Banmaleng, Kecamatan Giligenting, Sumenep.

Kejadi perahu tenggelam itu bermula saat Sumarwi usai berbelanja sembako dari Kecamatan Pragaan dan akan kembali ke Desa Banmaleng, Pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Sumenep. Namun, sampai dengan pukul 17.30, korban belum juga sampai ke tujuan.

Kemudian, keluarga korban mencoba menghubungi Sumarwi melalui sambungan handphone. Namun tidak tersambung. Hingga malam, korban tidak bisa dihubungi.

“Keluarga korban menduga korban tenggelam bersama perahunya,” terang Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, Rabu (12/7).

Diterangkan, perahu dengan dominasi warna biru bertuliskan Bantuan DKP Sumenep 2015 itu memuat air mineral sebanyak 100 dos, 50 tabung elpiji 3 kilogram, BBM jenis solar dan pertalite sebanyak 20 jerigen masing-masing berisi 35 liter. Kemudian gula sebanyak 100 kilogram.

Proses pencarian perahu tenggelam berikut korban terus dilakukan. Hingga Rabu (12/7) sekitar pukul 08.30, lima unit perahu milik warga setempat juga kembali melakukan upaya pencarian di perairan Pulau Giliraja dan sekitar Pelabuhan Aeng Panas.

“Pada saat tim melakukan pencarian dititik yang telah ditentukan, hanya menemukan perahu korban yang sudah tenggelam. Kemudian perahu ditarik ke darat,” paparnya.

Baca juga:  Sempat Hilang, Bocah 4 Tahun Asal Ambunten Ditemukan Tak Bernyawa Terbungkus Karung di Dalam Sumur

Sekitar pukul 11.30, tim SAR bersama warga melakukan pencarian dan menemukan mayat korban dalam keadaan mengambang di tengah laut. Tim kemudian membawa mayat korban ke Pantai Bringin, Desa Banmaleng, untuk dilakukan proses pemakaman.

“Pihak keluarga besar dari amarhum menolak untuk dilaksanakan visum,” pungkas Widiarti. (*)

Dapatkan Informasi Menarik Lainnya DI SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *