Kisah Singkat Asal Mula Api Tak Kunjung Padam Pamekasan

Api Tak Kunjung Padam
Wisata alam Api Tak Kunjung Padam di Desa Larangan Tokol, Pamekasan. (Foto: MID27)

maduraindepth.com – Api Tak Kunjung Padam di Pamekasan merupakan tempat wisata alam yang unik sekaligus menarik untuk dikunjungi. Terletak di Desa Larangan Tokol, lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Pamekasan. Sekitar 4 kilometer.

Api Tak Kunjung Padam ini tak serta merta muncul begitu saja. Namun keberadaannya menyimpan sebuah kisah yang diceritakan secara turun-temurun.

Hendri, pengelola wisata menceritakan kisah awal mula kemunculan Api Tak Kunjung Padam di Kota Gerbang Salam. Menurut dia, fenomena alam itu erat kaitannya dengan legenda pernikahan Kiai Moko dengan putri seorang raja yang bertahta sekitar abad ke 16 masehi.

“Kejadian pernikahan tersebut karena Kiai Moko berhasil menyembuhkan sakit putri raja, Siti Suminten di kerajaan. Karena keberhasilannya menyembuhkan sakit putri raja, sehingga sebagai bentuk imbalan, raja memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan dirinya,” ucap Hendri, Jumat (9/12).

Dia menyebut, berdasarkan kisah, Kiai Moko hidup serba sederhana. Pada masa itu, Kiai Moko kebingungan ketika raja ingin bertamu ke rumah di Pamekasan. Pada situasi itu, akhirnya Kiai Moko memutuskan untuk bersemedi dan memohon pertolongan pada Sang Pencipta.

Tak lama kemudian, tokoh itu mendapat petunjuk untuk menancapkan tongkatnya ke tanah. Hal yang tidak terdugapun terjadi. Seketika, terbangun istana yang begitu megah, sumber mata air dan juga api sebagai penerangan.

Baca juga:  Mahasisa Minta Klarifikas Aturan tentang Tembakau Jawa Boleh Masuk ke Pamekasan

Singkat cerita, pernikahan terjadi. Namun, pasca pernikahan, hal yang tak terduga terjadi. Bangunan istana megah dan sumber mata air hilang seketika. Anehnya, api yang sebelumnya muncul dari permukaan tahan sebagai penerangan terus berkobar.

Sehingga, sampai saat ini si jago merah alami itu dikenal dengan Api Tak Kunjung Padam. Karena, kobaran api tidak pernah mati. “Tempat ini ramai ketika sudah memasuki hari libur, dan di malam Minggu banyak pengujung yang melakukan kegiatan bakar jagung,” pungkas Hendri. (MID27/*)

Dapatkan Informasi Terkini Di Sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner auto