Urgensi Budaya “Ase-Bherse” Menjelang Bulan Ramadhan

Ramadhan
Holikin
Oleh: Holikin, S.Pd.I

maduraindepth.com – Ramadhan tahun ini sudah sekian kalinya penulis tanpa orang tua (ayah dan ibu). Beliau berdua meninggalkan kami lebih awal (semoga Allah SWT senantiasa merahmati mereka berdua. Amin). Namun, aroma tradisi menjelang bulan Ramadhan peninggalan beliau seperti masih terasa bahkan tetap berlangsung hingga kini.

Menjelang bulan suci Ramadhan, keluarga kami memiliki kebiasaan yang bisa dibilang unik. Yaitu, membersihkan semua prabot dapur, mengecat rumah, hingga mencuci semua pakaian, dan membersihkan lingkungan sekitar. Semua dilakukan dengan niat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.


Kebiasaan semacam itu, konon sering juga dilakukan oleh atau ada sejak leluhur kami sebelumnya. Demikian, terus dipertahankan oleh orang tua kami, hingga ke generasi kami. Dan rupanya kebiasaan atau tradisi semacam itu juga dilakukan oleh hampir semua penduduk di lingkungan sekitar kami. Seolah ada yang mengomando, semua masyarakat melakukan hal itu persis satu minggu pra-Ramadhan.

Tradisi “ase-bherse” (bersih-bersih) menjelang Ramadhan tersebut, memiliki nilai edukasi tinggi selain manfaat yang melimpah. Orang tua kami, seperti sedang memberikan petuah tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan. Kita tahu, pengajaran tentang kebersihan dan keindahan lingkungan sesuatu yang amat ditekankan dalam Islam. Hingga Nabi SAW mengkaitkan perihal itu dengan agama dan keimanan melalui dua haditsnya yang masyhur: “Buniya al-din ‘ala al-nadhafah” (agama dibangun atas kebersihan) dan “Al-nadhafatu min al-iman” (kebersihan bagian dari iman). Dimana akhir-akhir ini persoalan lingkungan menjadi perkara pelik yang tak pernah tuntas terselesaikan. Itu yang pertama.

Baca juga:  Merayakan Hari Kartini di Tengah Pandemi Covid-19, Suksesnya Pemimpin Perempuan di Dunia

Yang kedua, bersih-bersih menjelang Ramadhan memiliki dimensi batiniyah. Bersih-bersih lingkungan rumah yang secara fisik berarti membersihkan lahiriyah tersebut, sejatinya sedang memberikan tuntunan agar secara bersamaan kita senantiasa membeningkan fikiran dan hati. Mensucikan hati dari sifat-sifat radzail (tercela) seperti iri, dengki, takabur, ingin dipuji, merasa paling benar, dan sebagainya sangat dianjurkan oleh Nabi. Sebab, kebeningan hati merupakan puncak cemerlang akan kebeningan seluruh tubuh lainnya. Nabi SAW bersabda, “Terdapat segumpal daging dalam dada manusia, yang mana jika segumpal daging itu baik maka baik seluruhnya, jika buruk maka buruk pulalah seluruhnya. Ketahuilah, ia adalah hati.”

Ketiga, melakukan “ase-bherse” secara berjama’ah di lingkungan keluarga, memiliki indikasi akan betapa pentingnya sebuah kebersamaan, persatuan, dan kerukunan. Pelajaran ini sangat penting lagi berharga. Orang tua, dengan tidak langsung menciptakan harmoni di antara sanak famili. Di samping itu, juga mengajarkan akan pentingnya budaya gotong royong, serta dengan secara nyata menghadirkan manfaat kalimat ringan sama dijinjing berat sama dipikul, yang sebelumnya hanya berujud sebatas selogan.
Keempat, tarhib (penyambutan) dengan mengadakan kegiatan terpuji semacam itu merupakan satu bentuk ekspresi kebahagiaan akan datangnya bulan yang mulia. Demikian, jelas bernilai mulia pula. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang merasa bahagia akan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya masuk ke dalam api neraka.”

Baca juga:  <