Peredaran Narkoba Di Kepulauan Sumenep Memprihatinkan

Narkoba Sumenep
Kapolres Sumenep AKBP Darman. (Foto: AJ/MI)

maduraindepth.com – Peredaran narkoba di Kabupaten Sumenep semakin meresahkan. Meski sering dilakukan penindakan oleh penegak hukum, namun kasus penyalahgunaan barang haram tersebut kian menjamur. Bahkan merambah ke wilayah kepulauan Kota Keris.

Kapolres Sumenep AKBP Darman memaparkan, Kabupaten Sumenep masuk dalam daftar zona merah narkoba. Khususnya wilayah kepulauan. Peredaran narkoba di wilayah ini diakui cukup sulit diungkap. Sebab jauh dari pemantauan pihak berwenang.


“Peredaran narkoba di kepulauan cukup tinggi. Itu dari hasil penangkapan yang dilakukan oleh Polsek jajaran,” ungkapnya, Senin (21/9).

Sejak tiga bulan terakhir, lanjut dia, terhitung mulai Juni hingga Agustus 2020 pihaknya telah mengamankan sebanyak 106 tersangka kasus narkoba. Sedangkan sekitar 45 persen kasus di antaranya diungkap di wilayah kepulauan.

Perwira dengan dua melati di pundaknya ini menjelaskan, salah satu pengedar narkoba yang tertangkap merupakan salah seorang mahasiswa yang tengah kuliah di Semarang. Tersangka ditangkap saat pulang kampung ke Pulau Sapeken dan mengedarkan barang haram tersebut.

Dia menyebut, narkoba sangat merugikan bagi masa depan generasi bangsa. Mengingat, beberapa kasus ditemukan adanya pengguna yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Oleh karena itu pihaknya mengaku tidak hanya melakukan proses penindakan, melainkan juga langkah antisipasi.

”Langkah pencegahan. Di antaranya dengan membentuk kampung tangguh narkoba,” kata pria asal Demak, Jawa Tengah itu.

Baca juga:  Bupati Sampang Imbau OPD Salat Berjamaah

Beberapa langkah antisipasi yang dilakukan di antaranya dengan menyerahkan sebanyak 25 alat tes narkoba pada setiap desa di setiap Polsek jajaran.

Diharapkan, dengan bantuan alat tes tersebut Polsek jajaran bersama masyarakat bisa mengidentifikasi anak-anak muda yang menggunakan narkoba. Tes dilakukan dengan mendatangi langsung ke rumah-rumah yang diduga menggunakan narkoba.

Jika diketahui ada yang positif, para pengguna barang haram itu akan dikumpulkan. Kemudian akan dilakukan rehabilitasi. ”Pada dasarnya pengguna itu adalah korban. Ada salah satu pesantren di Sumenep yang siap menampung para pengguna narkoba ini untuk menjalani rehabilitasi,” ujar mantan Kasubditgakkum Ditpolair Polda Jatim itu.

Dia menambahkan, dalam kampung tangguh narkoba ini juga dibentuk satuan tugas (satgas). Mulai satgas pencegahan, informasi, partisipasi, dan satgas penindakan.

Satgas ini terdiri dari aparat penegak hukum (APH) dan tokoh masyarakat. Keterlibatan masyarakat menurutnya sangat diperlukan dalam memberantas peredaran narkoba. ”Karena mata dan telinga kami terbatas,” paparnya. (*AJ/MH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here