Nisfu Sya’ban dan Agenda Persatuan

95
Penulis Holikin, S.Pd.I.
Oleh: Holikin, S.Pd.I*

maduraindepth.com – Pada pertengahan bulan Sya’ban tahun lalu, saya sempat menulis status di akun Facebook saya mengenai perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait shalat Nisfu Sya’ban yang rakaatnya cukup melimpah itu. Penekanan penting dalam status (tulisan) saya itu, yaitu pendapat Imam Nawawi yang terangkum dalam kitabnya, Al-Majmu’ Syarhu al-Muhazzab, yang mengemukakan bahwa shalat tersebut hukumnya bid’ah.

Pada hakikatnya, tujuan sebenarnya tulisan saya itu tidak sedang memantik perdebatan, apalagi untuk mendulang sentimen baru di tengah-tengah masyarakat yang sedang betapa terpusatnya segala upayanya melawan wabah virus ini. Namun, semua dilakukan, ditulis, berdasarkan karena ada salah seorang penanya yang kebetulan itu teman lama saya. Ia bertanya perihal status hukum shalat itu, tentu saya jawab sesuai kemampuan saya bedasarkan pada argumen terkuat yang telah menjadi konsensus ulama fiqhiyah yang mu’tabarah.


Alih-alih menjadi sesuatu yang mencerahkan, demikian malah menjadi jarak semakin renggangnya sebuah hubungan. Alasan dan niat baik, begitu sulitnya mendapatkan perhatian yang baik pula. Masyarakat kita seolah mengalami traumatik yang begitu dalam akan kata “bid’ah” atau yang semakna dengannya. Seolah-olah kata bid’ah tak pernah ditemukan dalam khazanah fiqih kita. Padahal, kata tersebut begitu melimpah kita jumpai dalam literatur ulama kita, baik klasik maupun kontemporer.

Baca juga:  Lestarikan Budaya Baca, Untuk Generasi dan Negeri

Memandang respons yang tidak mengenakkan itu, saya sebenarnya merasa bersalah. Persoalan furu’iyah (cabang hukum) semacam ini tidak perlu kita angkat tinggi-tinggi. Malah, menurut saya, ini bukanlah sesuatu yang urgen. Yang terpenting dari semuanya adalah nilai-nilai kemanusiaan berupa silaturahmi, ikatan atau hubungan baik antarsesama, dan persatuan.

Kita (saya, khususnya) semakin menyadari, betapa kita terperosok begitu jauh ke dalam bingkai perbedaan yang ujungnya menjadi perpecahan. Saya teringat akan pesan Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumidin, puluhan tahun lalu, “Umat ini, akhir-akhir ini begitu sibuk pada urusan-urusan polemik dan perdebatan kusir, berbangga-bangga dalam forum diskusi, dan semacamnya, padahal bukan untuk itu ilmu diturunkan.”

Dan, dalam kasus yang saya alami tahun lalu itu, semakin menguatkan akan kebenaran kalam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, “Janganlah kamu terperangkap dalam jerat perbedaan. Sebab, perbedaan kadang menjadi sebab akan perpecahan (lianna al-ikhtilafa sababu al-firaq).”

Diskursus soal nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) termasuk juga hal-hal yang berkaitan dengan kultur dan spiritual yang berhubungan dengannya, memang terdapat ragam ikhtilaf di tengah-tengah cerdik pandai kita. Ikhtilaf seputar itu sengaja dihadirkan dengan tujuan meneguhkan keyakinan betapa kayanya khazanah keilmuan yang umat ini miliki. Sebagaimana kita tahu, bahwa ikhtilaf adalah bentuk lain dari kasih sayang (al-ikhtilafu rahmatun). Sedangkan kasih sayang fitrahnya jelas menyatukan.

Baca juga:  Lebaran, Silaturahmi, dan Physical Distancing

Jamak disadari, persatuan kita akhir-akhir ini mengalami keterbengkalaian. Perbedaan baju seragam dan almamater, tak ayal menjadikan perpecahan. Apalagi perbedaan pilihan politik. Semua, menjadi alasan diri manusia hilang status makhluk sosialnya dan menjadi individual dan nafsi-nafsi.

Kenyataan semacam ini, diperparah dengan sikap saling melempar tuduhan dan sematan. Yang satu disematkan label “liberal” dan satunya disematkan label “radikal”, bahkan ahlissunah, ahlil bid’ah,