banner auto

Mengintip Sejarah dan Keunikan Masjid Madegan Sampang

Masjid Madegan
Salah satu warga saat beribadah di Masjid Madegan Sampang, Kamis (1/12). (Foto: MID25)

maduraindepth.com – Masjid Madegan Sampang dikenal dengan sejarah serta keunikannya. Tempat peribadatan umat muslim itu terletak di Kelurahan Polagan, Kabupaten Sampang.

Ada cerita mistis di balik pembagunan Masjid Madegan yang berada di kawasan salah satu wisata religi di Sampang ini. Berdasarkan penuturan Mudakkir, salah satu penjaga masjid, dahulu masjid hanya dibangun dalam waktu satu malam saja. Tepatnya Kamis, malam Jumat.

Uniknya, kata dia, ke empat tiang penyangga di dalam masjid miring ke arah Utara. Selain itu, masing-masing tiang memiliki kelebihan tertentu.

“Tiang depan bagian Utara diyakini cepat mendapat ilmu, tiang depan bagian Selatan diyakini cepat mendapat jabatan, tiang belakang bagian Utara cepat mendapat ilmu pengobatan, dan tiang belakang bagian Selatan cepat mendapat kemudahan berbisnis,” ungkapnya, Rabu (30/22).

Mudakkir menyebut, dahulu Masjid Madegan Sampang menjadi salah satu tempat penyebaran Agama Islam di Pulau Madura. Masjid Madegan juga dikelilingi makam para raja, ulama dan sesepuh Kabupaten Sampang yang disebut makam Ratu Ibu.

Ada Pohon Sawo di Dalam Masjid Madegan

Selain mempunyai empat tiang miring, di dalam Masjid Madegan Sampang juga terdapat pohon sawo yang telah mati. Tersisa bonggol dan akar saja. Namun sampai saat ini, sisa-sisa pohon itu masih tetap berada di dalam masjid. Bahkan dilindungi dengan kurungan berlapis kaca.

Baca juga:  Sejarah itu Lurus
Masjid Madegan
Salah satu pengunjung saat melihat pohon sawo di dalam Masjid Madegan Sampang, Kamis (1/12). (Foto: MID25)

Pohon itu, lanjut Mudakkir, sudah berusia ratusan tahun. “Pohon sawo itu dulu ada lima, yang mempunyai simbol lima rukun Islam yang terdiri dari 5 perkara. Kisahnya, dulu setelah adzan maghrib, pohon itu tiba-tiba roboh ke arah Utara tanpa ada orang yang tau, dan disekitar pun tidak ada yang rusak,” ucapnya.

Sumber lain, Muzekki, juru kunci Makaman Ratu Ibu itu menceritakan kisah dari tiang kayu penyangga yang ada di masjid tersebut. “(Kayu tiang penyangga) dibawa ke Mageden hanya dengan dicongkel dengan tongkat kecil sampai menggelinding hingga sampai ke Desa Madegan” tuturnya kepada maduraindepth.com.

Perihal pohon sawo yang adai di dalam masjid, menurut dia tidak boleh dipindah, apalagi dibuang. Mengapa batang pohon dilindungi kaca? Muzekki menyebut, banyak pengunjung sebelumnya yang mengambil sebagian batang pohon.

“Banyak pengunjung yang datang dan mengambil batang yang telah mati tersebut. Karena ingin menghindari kesyirikan, maka batang tersebut sekarang ditutupi dengan kaca pelindung,” paparnya. (MID25/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner auto