Khofifah Urai Perencanaan Floodway untuk Bebas Banjir Sampang

Floodway Sampang
Khofifah Indar Parawansa saat diwawancara oleh awak media di lokasi Pompa Air Penyedot Banjir di Jembatan (Gladag) Bhukor, Keeelurahan Dalpenang Sampang, Ahad (20/12). (FOTO: RIF/MI)

maduraindepth.com – Usai melakukan pencarian titik koordinat sudetan di Dusun Tambangan, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengurai perencanaan di Tahun 2021 dalam penanganan Banjir, Ahad (20/12). Ia mengatakan, untuk penanganan banjir di Kabupaten Sampang dengan cara melakukan pembangunan Floodway.

“Ini merupakan langkah solutif dalam mengatasi banjir, kami sudah komunikasi dengan menteri PUPR. Salah satu cara yang signifikan adalah pembangunan floodway ini bisa segera diselesaikan,” katanya.


Khofifah menyebut menteri PUPR sudah menyiapkan sejumlah anggaran. Sehingga menteri PUPR meminta agar mengkomunikasikan dengan masyarakat dan pemerintah daerah.

“Makanya saya ingin melihat fisiknya, jadi kira-kira yang dilewati sungai berapa kilo meter, hingga bertemu dengan laut setelah melewati desa, perkampungan dan persawahan,” tambahnya.

Ia menjelaskan, hal ini harus dilakukan untuk bisa memberikan signifikansi terhadap kemungkinan pencegahan banjir yang setiap tahun masuk ke kota Sampang.

“Berdasarkan hitung-hitungan dari Balai Besar Brantas, sungai kali Kemuning hanya memiliki daya tampungnya 46 persen, kalau ditambah Embung yang 5 hektar kira-kira daya tampungnya 5 persen, tapi masih 51 persen,” jelasnya.

“Insya Allah normalisasi sungai kali kemuning akan diselesaikan di tahun 2021,” tegasnya.

Dikatakannya, Berdasarkan Warning Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, sampai bulan Februari 2021 harus siaga untuk melakukan penanganan dampak dari banjir. Sehingga seluruh Indonesia harus melakukan langkah-langkah antisipatif.

“Oleh karena itu di internal Pemprov tidak hanya BPBD, ada dari tim SDA, dari tim Bina Marga, dari tim Dinas Perhubungan, dan terutama adalah Dinas Kesehatan (Dinkes) harus terus update. Bagaimana kita bisa melakukan penanganan dengan meminimalisir risiko dan zero kematian,” tandasnya.

Baca juga:  Mengungkap Kehidupan Waria di Madura (Part 2)

“Persoalan di beberapa titik banjir, yang lebih dulu harus disiapkan adalah tanggul dan floodway,” tuturnya.

Dijelaskannya, dalam hal ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kementerian PUPR dan UPT PUPR Jawa Timur.

“Di Sampang harus ada floodway, kanal harus sampai ke laut, pak Menteri PUPR sudah menyiapkan anggarannya termasuk adalah ganti untung daerah yang akan dilakukan perluasan floodway. Yang melakukan negosiasi dengan masyarakat adalah Bupati Sampang,” pungkasnya.

“Jadi hal-hal seperti ini harus terus ditelateni sampai kemudian kanal ke laut itu bisa selesai,”tutupnya.

Catatan Banjir Sampang
SAMPANG
Monumen Trunojoyo Kabupaten Sampang, Madura, tampak dari atas. (FOTO: Shutterstock MI)

Berdasarkan informasi yang dihimpun maduraindepth.com, setiap tahun banjir luapan Sungai Kemuning selalu melanda di Kabupaten Sampang dikarenakan curah hujan di bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kemuning rata-rata lebih dari 35 mm, debit banjir yang mengalir Q25 = 420 m3/det. Sedangkan kapasitas sungai utama hanya mampu menampung 120 – 130 m3/det.

Dampak yang paling dirasakan yakni terhambatnya aktivitas perekonomian yang disebabkan terputusnya akses masyarakat menuju pusat-pusat perekenomian seperti pasar.

Sebelumnya, di Tahun 2019 lalu, banjir yang menggenang di areal sawah seluas +20 Ha. Pemerintah Kabupaten Sampang telah berupaya untuk meminimalisir terjadinya banjir, dengan cara pembuatan reservoir-reservoir kecil pada 50 lokasi di 72 Anak Sungai Kemuning.

Selain itu Pembuatan pintu-pintu air drainase, Pembebas