Ini Konsep Hari Jadi Sumenep ke-750

0
667
Kadisbudparpora, Carto. (Foto: MR/MI)

maduraindepth.com – Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur sebentar lagi tiba. Tapi sampai saat ini belum ada yang tahu bentuk rupa konsep Hari Jadi Kota Sumenep tahun ini.

Mengenai hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Kadisparbudpora) Sumenep, Carto, angkat bicara soal konsep Hari Jadi Kota Sumenep ke-750 tahun 2019.

“Hari jadi tahun ini bakal berbeda dan tentunya lebih menarik dari tahun sebelumnya, tahun ini insyallah akan di gelar pada malam hari yang nantinya juga akan diindahkan dengan lighting lampu yang mengesankan,” ungkapnya, pada media ini, Selasa (2/10).

Seperti biasa, kata Carto, kegiatan tahunan itu akan dilaksanakan di Depan masjid jamik Sumenep. Hal yang berbeda nantinya akan ada podium utama tempat para pejabat tinggi Sumenep, selain itu juga ada podium khusus pengunjung VVIP dan VIP.

“Podium itu akan dikemas seperti suasana Kerajaan masa lalu. Jadi podium utama akan lebih tinggi dari podium lainnya. Sedangkan podium VVIP dan VIP khusus penonton yang ada ratusan kursi itu bisa di bocking oleh siapa saja kepada panitia, tentunya dengan harga yg sudah disepakati,” terangnya.

Lebih menariknya lagi, lanjut Carto, menjelaskan, prosesi Arya Wiraraja akan berlangsung paling lama 20 menit, baru kemudian dalam pesta hari jadi Sumenep itu pagelaran pawai berbagai kesenian asli yang ada di Kabupaten paling ujung pulau madura itu hadir.

“Saya ingin mengangkat kesenian asli Sumenep, karena dari dulu sampai tahun 2017 hari jadi itu hanya khusus prosesi Arya Wiraraja, disitu saja kan, jadi saya menjawab keluhan masyarakat kenapa kok menoton. Jadi akan saya bikin pawai kesenian untuk menghibur masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Asisten Pemerintahan Setkab Sumenep ini menjelaskan, pada kirab atau pawai kesenian yang bakal digelar usai proses Arya Wiraraja itu akan ada ratusan peserta pawai dengan antraksi teaterikal atau tarian paling lama 10 menit dihadapan podium Bupati dan Wakil Bupati, serta para tamu undangan dan masyarakat yang akan datang menyaksikan prosesi Hari Jadi Kota Sumenep.

“Nantinya ada sekitar ratusan orang yang ikut pawai Hari Jadi Kota Sumenep, diantaranya, diposisi pertama ada penari muang sangkal. Kedua pawai para keturanan Raja Sumenep. Urutan ketiga ada kesenian dari Kepulauan seperti suku Bajau, Bandar dan Bugis. Nah disitu nanti kesenian asal Kepualauan yang belum pernah diangkat akan diperagakan,” tambahnya.

Identitas Kota Keris, 700 Empu Meriahkan Hari Jadi Sumenep

Selain itu, lanjut Carto, ada juga pawai sekitar 700 empu, sebab Sumenep dikenal dengan kota keris.

“Biasanya kalau empu identik dengan macopat. Jadi dibelakang empu nanti ada puluhan pembaca macopat yang secara bersamaan mendengungkan lagu macopat mengiringi para empu,” jelasnya.

Baru kemudian, tutur Carto, ada Jaran Serek yang akan diiringi dengan parade musik saronen.

“Tapi musik saronen itu tidak hanya satu group yang tampil dihadapan masyarakat, namun ada sekitar 10 group dijadikan satu yang akan dipukul bersamaan, sehingga musiknya nanti akan menggema. Saya ingin tahu bagaimana suaranya kenong dan gong kalau dibunyikan secara bersamaan,” bebernya.

Disebutkan oleh Carto, bahwa setelah itu ada pawai hewan yang menjadi icon Sumenep.

“Ada Ayam Bekisar, Ayam Gaug, Kucing Busok, Kaka Tua Jambul Kuning, Ayam Malio dan Pulau Oksigen yang terkanal di Kota kita. Namun semua jenis hewan icon sumenep itu akan diwujudkan dalam bentuk badut. Jadi badut-badut ini nanti akan jadi icon Sumenep. Selain itu disetiap kegiatan apa saja Icon dalam bentuk badut ini bisa tampil,” terangnya dengan rinci.

Pihaknya juga menjelaskan, jika dalam Sumenep Karnaval, semua Kepala Desa di Sumenep akan tampil dengan baju-baju adat setiap Desa, sementara yang dari Pulau terdiri dari berbagai suku, seperti suku Bugis, Bajau dan lainnya akan memakai baju adat masing-masing.

Tak hanya itu, topeng dalang asli Sumenep juga akan bernyanyi dan menari dalam pawai kesenian itu sang setelahnya disuguhi pawai Sinden.

“Kita akan panggil semua Sinden di Sumenep untuk bernyanyi dan berpartisipaai dalam hari jadi ini,” timpalnya.

Diakhir penutup, Carto, akan merintis dan mempromosikan sarung batik yang menjadi ciri khas Kota Sumenep.

“Kita kan punya banyak para pembatik, selain itu kita banyak santri dan pondok pesantre. Tapi kita terbius dengan merek atau produk dari luar, sepert Donggala, Lamiri dan lainnya. Nah ini saatnya mengenalkan Sarung Batik milik kita sendiri kepada masyarakat luas. Nanti ada sekitar puluhan santri akan memakai Sarung Batik hasil karya pembatik kita,” bebernya lagi.

Sebelum itu, diposisi pawai terakhir akan ada kereta kencana yang di tunggangi Bupati Sumenep beserta rombongan.

“Baru setelah semua pawai kesenian itu, Bapak Bupati akan naik pawai Kereta Kencana, sedangkan pejabat lainnya akan menaiki Dokar untuk mengantarkan Bapak Bupati pulang kerumah dinas,” jelas dia.

Tak lupa pihaknya juga menyampaikan, jika kesuksesan pagelaran Hari Jadi Kota Sumenep ke -750 itu menurutnya membutuhkan dana yang cukup besar.

“Maka dari itu kami nanti akan memakai EO (Event Organizer) untuk mengatur dan mensukseskan acara ini, karena terus terang pendanaan kami minim,” pungkasnya. (MR/AJ)