Bupati Sampang dan Pejabat Daerah Gagal Divaksin Covid-19. Ini Penjelasan Dinkes

vaksinasi covid-19 di sampang
Vaksinasi Covid-19 di Pendopo Trunojoyo Sampang, Kamis (28/1). (Foto: Alimuddin/MI)

maduraindepth.com – Vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Sampang dilangsungkan di Pendopo Trunojoyo Sampang, Kamis (28/1). Vaksinasi tahap pertama disuntikkan bagi pejabat daerah yang memenuhi syarat menerima vaksin sinovac. Namun beberapa pejabat termasuk Bupati Sampang gagal mendapat suntikan vaksin tersebut.

Ada empat orang pejabat daerah yang ditunda mendapatkan suntik vaksin sinovac. Berdasarkan informasi yang diterima media ini, para pejabat itu gagal dalam tahap screening medis. Di antaranya karena memiliki riwayat penyakit penyerta, ada juga berstatus sebagai penyintas Covid-19.


Empat pejabat yang tidak bisa disuntik vaksin yaitu, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz, Ketua DPRD Sampang M.Fadol dan Kepala Kemenag Sampang Pardi.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang Agus Mulyadi menjelaskan, vaksinasi tahap pertama yang dilakukan Dinkes Sampang bersama pemerintah kepada para pejabat daerah sebagai launching dan simbol. Namun dalam pelaksanaanya ada beberapa pejabat daerah yang batal divaksin Covid-19.

“Keempat pejabat ini batal dan akan dilakukan vaksinasi selanjutnya. Karena pada saat screening medis tercatat memiliki riwayat penyerta, juga termasuk penyintas virus corona,” ungkapnya.

Baca Juga:

Agus mengungkapkan, dilakukannya vaksinasi tersebut guna memutus penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sampang. Menurut dia, vaksin yang diberikan sudah melalui uji BPOM dan mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain itu telah memenuhi standar sertifikasi yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni di atas 50 persen.

Baca juga:  H. Slamet Junaidi: Isro' Mi'raj Menjadi Momentum untuk Merestorasi Cita-cita Bangsa

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu takut untuk divaksin. Sebab vaksin tersebut sudah dipastikan aman dan halal.

“Buktinya pemerintah pusat sudah melakukannya duluan, termasuk Presiden Jokowi. Vaksinnya sudah memenuhi standar sertifikasi yang ditetapkan WHO,” jelas Agus.

Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Ariska Megasari memaparkan, bagi penyintas belum bisa divaksin Covid-19. Sebab bagi seseorang yang pernah sembuh setelah dinyatakan positif Covid-19 memiliki antibodi alami dalam tubuhnya.

“Di dalam tubuh penyintas sudah terbentuk kekebalan terhadap spesifik Covid-19. Tapi anti bodinya itu bisa turun melalui beberapa bulan ke depan. Sehingga bisa diberikan kembali,” paparnya.

Ariska menjelaskan, berdasarkan beberapa penelitian antibodi ini akan hilang dari tubuh setelah perkiraan tiga sampai enam bulan. “Baru setelah melewati beberapa bulan, seorang penyintas Covid-19 bisa divaksin kembali,” tandasnya. (ALIM/BAD)