banner auto
banner auto

Bumikan Nilai Toleransi Melalui Seminar dan Pentas Seni

DKS Gandeng INSTIKA dan BALK Balitbang Diklat Kemenag RI

Ratusan peserta saat mengikuti kegiatan seminar nasional dan pentas seni di Aula Asyyarqawi INSTIKA, Guluk-Guluk, Sumenep, Rabu (19/10). (Foto: DKS for MI)

maduraindepth.com – Dewan Kesenian Sumenep (DKS) bekerjasama dengan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Balitbang Diklat Kemenag RI dan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) menggelar Seminar Nasional dan Pentas Seni, Rabu (19/10). Kegiatan bertajuk Translasi Budaya Nusantara untuk Aktivasi Toleransi dan Moderasi Beragama yang digelar di Aula Asyyarqawi INSTIKA, Guluk-Guluk, Sumenep itu diikuti sekitar 350 peserta.

Ketua DKS, Turmidi mengatakan, toleransi dan moderasi hari ini patut digaungkan. Diterangkan, DKS sengaja menggandeng Balitbang Diklat Kemenag RI dan kampus INSTIKA yang berada di tengah-tengah pesantren sebagai upaya menyelaraskan antara seni, kultur, lokalitas, dan masyarakat santri yang notabene menjadi ciri khas masyarakat Madura.

“Di tengah-tengah ketegangan intoleransi dan ajaran yang memframing kekerasan, perlu pendekatan dan dialog. Nah, kegiatan ini adalah cara ucap dan sebentuk pendekatan untuk membangun dialog yang sehat dan sejuk melalui pendekatan akadamik, seni dan budaya, masyarakat santri sekaligus,” ujarnya.

Turmidi mengungkap, alasan menggandeng kampus yang ada di pesantren, karena pihaknya meyakini jika pesantren dengan metode pembelajaran yang diterapkan juga mengusung nilai-nilai toleransi. Sehingga para alumninya tidak tidak terseret pada arus sektarianisme dan radikalisme.

“DKS bekerjasama dengan INSTIKA juga menjadi salah satu titik terang implementasi kerja-kerja DKS di bidang edukasi,” ungkap pria yang akrab disapa Kiai Turmidi Jaka itu.

Baca juga:  Sapudi Gugusan Pulau Kecil di Madura yang Mempesona

Rektor INSTIKA, KH Ah. Syamli dalam sambutannya mengaku beruntung dapat bekerjasama dengan DKS. Pendekatan DKS ke kampus tidak hanya mendekatkan seni Islam pada pusatnya, melainkan juga dapat menjadi jalinan baru antar pihak kampus dan lembaga non kampus dalam mengusung nilai-nilai kebaikan untuk masyarakat.

“Saya mengapresiasi Dewan Kesenian Sumenep yang telah menjalin kerjasama dengan kami. Kebetulan fokus kegiatan ini adalah toleransi dan moderasi, hal ini juga telah menjadi kajian dan penerapan di kehidupan kampus dan pesantren,” ungkap Kiai Syamli.

Mengenai sikap toleransi, lanjut Kiai Syamli, bahwa Pondok Pesantren Annuqayah sudah melakukannya sejak dulu. Sekitar tahun 1980-an misalnya, Annuqayah telah menerima perbedaan dengan mendatangkan native speaker ke tengah-tengah pesantren. “Mereka yang notabene non-muslim live in di Annuqayah untuk sekian waktu semata membersamai para santri belajar Bahasa Inggris,” paparnya.

Tidak Ada Alasan untuk Tidak Cinta Indonesia

Kegiatan seminar dan pentas seni ini juga menghadirkan budayawan nasional asli Sumenep, yaitu KH D Zawawi Imron. Si Celurit Emas itu menggugah ratusan peserta yang hadir pada melalui petuah-petuah bijak disampaikan dengan halus dengan pantun bersajak.

Toleransi dan Modernisasi Beragama
Ketua DKS Turmidi saat menyerahkan piagam penghargaan kepada budayawan dan sastrawan nasional KH D Zawawi Imron pada kegiatan seminar nasional dan pentas seni di Aula Asyyarqawi INSTIKA, Guluk-Guluk, Sumenep, Rabu (19/10). (Foto: DKS for MI)

“Kenapa kita harus cinta Indonesia?  Kita semua minum air Indonesia, dan itu menjadi darah kita. Kita makan beras dan buah Indonesia, dan itu menjadi daging kita. Kita sujud di bumi Indonesia, berarti Indonesia menjadi sajadah kita. Saat mati,  kita akan kembali dalam pelukan bumi Indonesia. Tidak ada alasan untuk tidak cinta Indonesia,” tuturnya saat menyampaikan orasi budaya.

Baca juga:  Antisipasi Corona, Bupati Sumenep Siapkan Anggaran 2,5 Miliar

“Tanah air adalah ibunda kita. Siapa yang mencintainya,  jangan mencipratinya dengan darah,  kebencian, dan permusuhan. Siapa yang cinta Indonesia, akan mengisinya dengan ketakwaan,  kerukunan,  kemajuan, dan kreativitas. Tanah Air Indonesia adalah sajadah kita. Tempat kita bersujud kepada Allah,” sambungnya.

Setelah orasi budaya, rangkaian kegiatan tersebut diisi dengan seminar nasional yang menghadirkan Kiai M Faizi (budayawan nasional dan tokoh agama), Kiai Abd Wasid (Kasi PD. Pontren Kemenag Sumenep), Dr Damanhuri (Wakil Rektor INSTIKA dan Direktur Madrasah Moderasi LPTNU Sumenep) dan moderator Dr Tatik Hidayati (Dosen Pascasarjana INSTIKA).

Turut hadir melalui zoom meeting, Rizky Riyadu Taufik (Kasubag TU Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag RI) dan Pimpinan Pondok Pesantren Annuqayah, KH Ali Fikri.

Perlu diketahui, pada rangkaian Seminar Nasional dan Pentas Seni Tradisi ini juga dilangsungkan penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara DKS dengan INSTIKA. Nota kesepahaman meliputi kerjasama di bidang pendidikan, kesenian, penelitian, pengabdian masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info