Begini Kesaksian Mahasiswi Asal Sampang yang Terjebak di China akibat Virus Corona

0
1274
Corona Mahasiswi asal Sampang di china
Laili Nadhifatul Fikriya, mahasiswi Indonesia asal Desa Napo Laok, Omben, Sampang. (Foto: Dok. MI)

maduraindepth.com – Laili Nadhifatul Fikriya, mahasiswi Indonesia di China asal Desa Rapa Laok, Kecamatan Omben, Sampang sampai hari ini (28/1) terjebak di China. Mahasiswi S2 di International relations, Shandong University ini berharap pemerintah Indonesia khususnya Kabupaten Sampang bisa memulangkan dia. Kepada maduraindepth.com secara eksklusif Laili menceritakan situasi di tempatnya tinggal di Kota Qingdao Provinsi Shandong.

“Jadi kan aku tinggalnya di Provinsi Shandong, tepatnya di kota Qingdao. Sampai sekarang 8 orang positif corona di kota ini. Jadi virus ini benar-benar buat orang parno mas dan takut buat keluar rumah,” ucap gadis berusia 25 tahun itu.

Selain takut untuk keluar dari tempat tinggalnya, menurut Laili pemerintah setempat juga menghimbau masyarakat di sana untuk tidak keluar rumah. “Memang pemerintah menyarankan stay di asrama saja. Tapi kendalanya mahasiswa asing ini kan bertepatan sama libur imlek dan ditambah kasus virus korona, jadi kantin sekolah tutup sampai waktu yang belum ditentukan,” keluhnya.

Laili mengaku dirinya sempat memberanikan diri keluar dari asrama. Sayangnya makanan halal saat ini sudah jarang ditemukan.

“Akhirnya kemarin aku coba buat cari stok makanan ke super market terdekat yang masih buka, dan memang stok makanan terbatas mas. Nggak banyak pilihan yang bisa kita makan, apa lagi aku muslim. Jadi terpaksa hanya beli sayur mayur. Aku juga kemarin keliling kebeberapa apotik dan semua apotik kehabisan stok makanan,” beber Laili melalui komunikasi jarak jauh.

Dikatakan, mahasiswa asal Indonesia yang ada di sana jumlahnya cukup banyak. “Posisi teman-teman asal Indonesia sekarang banyak yang mau balik ke Indonesia sebelum kota-kota mereka juga di lockdown (tutup), mas. Karena banyak mahsiswa Indonesia yang nggak bisa pulang khususnya yang di Provinsi Hubei. Tapi kalau di kota tempat saya tinggal (Qingdao) saya berenam. Dari Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah dan Madura” jelasnya.

Laili berharap pemkab Sampang mau membantunya agar bisa segera pulang ke Omben. “Jadi harapannya ada bantuan dari pemerintah Sampang. Karena pemerintah Aceh sudah menyalurkan bantuan untuk anak-anak Aceh dan mengupayakan kepulangan anak-anak Aceh yang ada di China. Aku juga pengin pulang,” pintanya.

Untuk diketahui, dari pusat kota Wuhan ke Kota Qingdao membutuhkan waktu sekitar 11 jam. Meski demikian sejumlah warga di sana telah terpapar virus corona. Tak hanya itu, kondisi wilayah tersebut sudah seperti kota mati. (MH/AJ)