Syekh Khotib Mantoh dan Misteri Doa Songay Rajeh

Makam Syekh Khotib Mantoh di area Masjid Jamik Madegan, Sampang, Madura. (Foto: Faisal for MI)
Oleh: Faisal Ramdhoni *

 

Syekh Zainal Abidin atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Khathib Mantoh merupakan salah satu tokoh ulama besar generasi awal di kabupaten Sampang. Sumber kedatangan Pangeran Khathib Mantoh ini banyak tertera di beberapa lembar catatan silsilah keturunannya. Di pasareannya juga ada semacam deskripsi siapa dan bagaimana mengenai tokoh besar ini.


Nama beliau juga tercatat dalam buku “Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-daerah di Kepulauan Madura”, tulisan Zainal Fattah alias Raden Tumenggung Ario Notoadikusumo, Bupati Pamekasan.

Dalam buku tersebut, Pangeran ini ditulis Pangeran Khathib Sampang, putra Pangeran Kulon I bin Sunan Giri I. Beliau disebut menikah dengan Ratu Kasindaran, janda Pangeran Kasindaran. Ratu Kasindaran adalah salah satu putri dari Kiai Pratanu atau Panembahan Lemah Duwur.

Sementara di naskah-naskah kuna Madura tercatat Pangeran Khathib Mantu atau Tib Manto, salah satu putra dari Panembahan Kulon (di pasareannya, di kompleks Asta Giri tertulis Sunan Kulon) bin Sunan Giri, pendiri sekaligus penguasa pertama Keraton Giri atau Giri Kedaton, Gresik.

Dalam naskah-naskah yang bersumber pada catatan luar Madura, seperti yang bersumber pada catatan-catatan silsilah Giri Kedaton, Pangeran Khathib Mantu merupakan putra Sunan Kulon dari isteri pertama.

Beliau bersaudara satu ibu dengan Nyai Gede Kedatun (ibunda Sunan Cendana), Ratu Gede Mataram, dan Nyai Gede Kentil (isteri Pangeran Kabu-kabu). Putra Sunan Kulon lainnya ialah Pangeran Kebak (Gebak), Pangeran Dukat, Pangeran Waridi, Pangeran Jaladasi, Pangeran Waruju, dan lain-lain.

Baca juga:  Pemilu 2019 Sudah Di Depan Mata, Bagaimana Kesiapan Penyelenggara?

Di catatan lain, Pangeran Khathib Mantu ini tertulis Pangeran Khathib Pakebunan. Ini rupanya sesuai dengan naskah manuskrip di Pamekasan yang diterjemahkan oleh Drs Abdul Halim Bahwi, bahwa Sunan Cendana pada waktu ke Madura sempat tinggal bersama pamannya yang bernama Khathib Pakebunan di Sampang.

Makam Pangeran Khotib Mantoh berada di samping utara Masjid Madegan Kelurahan Polagan Sampang. Masjid tertua di Sampang ini dikenal sebagai tempat pelaksanaan sumpah pocong.

Setiap harinya di makam pangeran Khotib Mantoh selalu ada orang yang berziarah. Apalagi kalau malam Jum’at Manis atau keesokannya. Orang orang yang berziarah semakin banyak, bahkan ada yang berasal dari luar kota Sampang.

Semasa hidupnya, Pangeran Khotib Mantoh dikenal memilik pengaruh yang cukup luas tak hanya di kawasan Madura Barat. Beliau dikenal sebagai tokoh alim besar dan seorang Wali Agung.

Banyak tokoh ulama di Madura dan luar Madura yang memiliki sanad keilmuan hingga beliau. Salah satu amalan ijazah terkenal di Madura dan Jawa diyakini bersanad tunggal pada beliau, yaitu ijazah wirid Songay Raja (Sungai besar).

Beradasarkan cerita yang beredar kuat di kalangan masyarakat. Ijazahi doa Songay Rajeh diterima langsung oleh Pangeran Khotib Mantoh dari Nabiyyullah Sayyidina Khidzir ‘Alaihi Salam. Setelah beliau menjalani pertapaanya selama 40 tahun di dasar laut.