Banyak Situs Sejarah di Sampang Berubah, MTD Berencana Datangkan Pakar Sejarah

Sejarah Sampang
Rumah Pebabaran, salah satu situs sejarah peninggalan Pangeran Trunojoyo di Jalan Pahlawan, Kelurahan Rongtengah, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. (Foto: RIF/MI)

maduraindepth.com – Banyaknya situs sejarah di Sampang yang kurang mendapat perhatian pemerintah setempat menimbulkan seabrek versi tentang sejarah yang ada. Diantaranya tentang sejarah asal usul Pangeran Trunojoyo, Raden Qobul, pangeran Mangkumi, situs Putri Nanti atau Batu Kucing dan Raden Aryo Wiryo Diningrat hingga situs-situs sejarah lainnya di Kota Bahari.

Sebab itu Madura Tempo Doeloe (MTD) Sampang berinisiatif berencana mendatangkan pakar sejarah untuk mengetahui sejarah yang ada di Sampang. Mengingat referensi tertulis tentang sejarah di Kota Bahari sangat minim. Bahkan MTD menyebut sejarah tertulis yang berada di Disparpora kurang kurang kuat.


Ketua MTD Sampang Raden Ahmad Fauzan menyampaikan, sejarah dan budaya di Kota Bahari sudah banyak yang mengalami abrasi. Bukan tanpa sebab, hal itu lantaran selama ini terkesan kurang mendapat perhatian secara serius dari pemerintah daerah setempat.

Menurutnya, pihak pemerintah khususnya Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) kurang maksimal dalam menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah dan budaya di Sampang. Terbukti, banyak situs yang mengalami perubahan dampak pengembangan dan perbaikan situs-situs tersebut.

Dia menjelaskan, selama ini situs-situs sejarah yang ada di Kota Bahari dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Sehingga perlu adanya sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga sejarah.

“Karena ketidakpahaman masyarakat dan pemerintah banyak situs yang mengalami perubahan, ini sangat disayangkan,” jelas pria yang karib disapa Gus Fauzan itu, Ahad (13/9) kemarin.

Baca juga:  Sebut Al-Qur'an Tak Haramkan Sabu, Oknum Ustadz di Bangkalan Diciduk Polisi

Dia berharap, pemerintah bisa menjaga situs-situs sejarah dan kebudayaan yang ada di Sampang. Seperti halnya pemerintah merawat situs makan Rato Ebu di Kelurahan Polagan.

“Nah, selama ini pemerintah hanya fokus di situs Rato Ebu dan makam Buyut Napo di Kecamatan Omben yang masih kuat budayanya,” ucap dia pada maduraindepth.com.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua MTD Sampang, Bagus Sulton. Menurutnya saat ini banyak situs-situs sejarah yang mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Hal itu karena ketidakpahaman masyarakat dan pemerintah mengenai silsilah sejarah.

Salah satunya adalah cagar budaya pertapaan Raden Qobul yang dikenal sebagai buyut Aji Gunung. Menurut Bagus, dulu tempat pertapaan yang satu ini memiliki kedalaman setinggi dada orang dewasa, tapi kini hanya tersisa 30 sentimeter.

“Selama ini banyak peziarah ke Sampang langsung menuju Buyut Batu Ampar atau buyut Napo. Harusnya sebelum peziarah ke sana harus melakukan ziarah terlebih dahulu ke buyut Aji Gunung, setelah itu baru ke Napo, Batu Ampar dan buyut Prajjan,” tandasnya.

Dalam menjaga situs sejarah, kata Bagus, harus ada persamaan persepsi antara pemerintah dan masyarakat. Sehingga silsilah situs sejarah religi di Sampang bisa dipatenkan.

“Sulit memang. Karena persepsi itu sudah berjalan turun temurun, tapi tidak ada salahnya dicoba dengan keterbatasan referensi tertulis. Di Disparpora tidak ada yang kuat sejarahnya,” ujarnya.