REFLEKSI AKHIR TAHUN 2019 “Pamekasan Satu. Satu Pamekasan Untuk Satu Tujuan”

0
30
Hanafi, Kalapas Pamekasan. (Ruk/MI)
Oleh: Hanafi, Kalapas Pamekasan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mubarok Pamekasan. 

maduraindepth.com – Terdapat akronim dari kata Lapas yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Griya Winaya Janma Miwargi Laksa Dharmmesti” yang memiliki arti rumah untuk pendidikan atau bimbingan kepada manusia atau orang yang salah jalan atau sesat agar patuh pada hukum dan berbuat baik. Atau dengan kata lain lembaga pembinaan di dalam pemasyarakatan yang menempatkan cermin kontradiktif antara esensi dan eksistensinya.

Makna dari akronim tersebut sangat selaras dengan gagasan besar Dr.Sahardjo tentang Pemasyarakatan, dalam gagasan tersebut terkandung makna bahwa hukuman yang diberikan kepada orang yang bersalah bukan dimaksudkan untuk balas dendam tetapi mereka yang dianggap telah menjadi orang yang tersesat harus dikembalikan lagi ke masyarakat untuk menyadarkan mereka bahwa perbuatannya salah.

Dalam sebuah puisi yang ditulis oleh Sabar Anantaguna dalam puisi-puisi dari penjara yang berjudul “Bukan Misteri” dalam sebuah frasenya yang berbunyi “ Terlambat atau tersumbat penjara bukan kiamat” menyiratkan sebuah makna yaitu “penjara” yang selama ini dimaknai oleh sebagian besar orang sebagai tempat berakhirnya kebebasan dan kehidupan adalah kurang tepat, sekalipun bangunan penjara dapat mengurung atau membatasi gerak tubuh namun penjara tetap saja tak dapat membendung ide dan pemikiran para narapidana. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu baitnya yang berbunyi “dari terali pagi dihirup, angin masih hidup”.

Keberadaan Lapas diharapkan dapat mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik, meskipun sebagian orang tetap beranggapan bahwa orang berubah karena mereka ingin bukan karena Negara memberikan hukuman kepada mereka. Beberapa orang narapidana berubah menjadi lebih baik di dalam lapas karena mereka membuat pilihan untuk beralih kearah yang lebih baru. Demikian ungkap Hanafi Kepala Lapas Klas IIA Pamekasan mengutip salah satu pendapat dari Tara Wildes dalam situs Quora.

Hanafi menambahkan dalam salah satu buku yang pernah dibacanya yang berjudul “Inside The Criminal Mind” yang ditulis oleh seorang ahli perilaku kriminal Stanton Samenow,Ph.D, disebutkan bagaimana orang berubah selama atau setelah keluar dari penjara tergantung dari bagaimana cara orang itu memilih teman layaknya di dunia bebas. Tulisan ini memberikan inspirasi kepada seluruh jajaran petugas Lapas Klas IIA Pamekasan dalam melaksanakan pembinaan terhadap narapidananya. Kegiatan pembinaan yang dilaksanakan tidak saja melibatkan narapidana dan petugas tapi juga masyarakat sebagai tempat kembalinya narapidana kelak dalam menjalankan fungsi sosialnya.

Refleksi akhir tahun 2019 kali ini sebagai bentuk think deeply or carefully about” mengangkat sebuah tema “Mewujudkan Lapas damai tanpa gejolak yang mengganggu ketertiban menjadi tangggungjawab semua pihak”. Dengan menggunakan teori manajemen melalui analisis SWOT maka refleksi ini diharapkan dapat mengetahui capaian dari target, kendala yang dihadapi dalam pencapaian target serta target yang belum tercapai.

Stretegi yang diterapkan oleh Hanafi dalam memberikan pembinaan terhadap narapidana adalah melalui sebuah akronim Lapas Klas IIA Pamekasan sebagai “Lapas BERIMAN” (Bersih, Indah, Aman dan Nyaman). Meskipun salah satu kendala yang juga dihadapi oleh seluruh Lapas di Indonesia berupa masalah over crowding” termasuk juga di Lapas Klas IIA Pamekasan yang seharusnya memiliki kapasitas 670 orang dan saat ini dihuni oleh 1100 orang, namun bukan berarti konflik di dalam Lapas tidak bisa diminimalisir. Hanafi senantiasa memberikan arahan kepada seluruh jajarannya untuk memberikan pembinaan kepada narapidana dengan menggunakan pendekatan kekeluargaan dan kepada seluruh jajaran diharapkan untuk senantiasa meningkatkan kapasitas serta kapabilitas dalam menekan konflik yang terdapat di dalam lapas.

Untuk senantiasa menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan di dalam Lapas, telah diterapkan sebuah metode yaitu “conflict-analytical method in implementing disturbance prevention regulation in correctional facility” tambah Hanafi, pria yang selalu tampil energik ini. Dalam metode tersebut langkah yang dilakukan meliputi (1) mengantisipasi bentuk fenomena gangguan yang ada di dalam lapas, (2) menganalisa kemungkinan gangguan keamanan secara periodik dan sistematis,(3) melakukan mekanisme pengawasan internal serta (4) melakukan analisis konflik dengan menggunakan pendekatan manajemen konflik antar subjek di La