Marak Tiruan Batik Printing, Pengrajin Batik Tulis Tanjung Bumi Wadul ke DPRD Jatim

48
Batik Tanjung Bumi
Anggota DPRD Jatim Fraksi Nasdem KH. Moh. Nasih Aschal melihat hasil batik tulis di Desa Telaga Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, Selasa (9/3). (Foto: Suryadi Arfa/MI)

maduraindepth.com – Pengrajin batik gentong dan batik tulis curhat ke Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) H. Moh. Nasih Aschal. Keluhan disampaikan para pengrajin terkait maraknya batik printing yang beredar di pasaran.

Motif dan corak batik printing yang beredar sama persis dengan karya batik tulis dan batik gentong yang dihasilkan oleh pengrajin.


“Sehingga membuat anjlok harga batik asli gentong buatan Tanjung Bumi,” ujar Diah, salah satu pengrajin saat diwawancarai tim maduraindepth.com Bangkalan, Selasa (9/3).

Bukan itu saja, wanita 24 tahun tersebut juga mengeluhkan terkait hak paten atas karya pengrajin batik Tanjung Bumi. Sehingga pengrajin tidak bisa mengklaim batik khas daerahnya yang ditiru oleh orang-orang luar.

“Saya meminta bantuan pak dewan untuk hak peten batik gentong asal Tanjung Bumi agar tidak ditiru,” keluhanya.

Diah menyebut, jika kondisi itu dibiarkan maka akan berdampak terhadap harga pasaran dan kualitas batik gentong Tanjung Bumi. Terlebih proses pembuatan batik ini bisa mencapai 6-12 bulan. Bahkan bisa mencapai satu tahun lebih dalam penyelesaiannya.

“Harga batik gentong biasanya bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. Akibat batik printing menjadi anjlok,” tuturnya dengan nada agak serak.

Selain itu para pengrajin juga meminta arahan dan masukan kepada H. Moh. Nasih Aschal terkait pemasaran produk batik yang sudah dihasilkan. Karena pengrajin masih kebingungan dalam mempromosikan batik yang sudah siap jual. “Tolong bantu kami dalam pemasarannya, agar ekonomi pengrajin batik bisa terpenuhi,” tutup Diah.

Baca juga:  Nelayan Arosbaya VS Nelayan Jaring Trowl di Bangkalan, Korban Alami Luka Bacok
Anggota DPRD Jatim Siap Kawal Batik Tanjung Bumi Dapat Hak Cipta

Menanggapi keluh kesah pengrajin batik, Anggota DPRD Jatim Fraksi Nasdem H. Moh. Nasih Aschal mengaku akan melakukan koordinasi dengan kepala daerah. Tujuannya, agar pemerintah setempat memfasilitasi terkait hak cipta batik khas Tanjung Bumi tersebut.

Menurut dia, batik Tanjung Bumi hingga saat ini belum dipatenkan. “Saya akan berkoordinasi dengan bapak Bupati (R. Abdul Latif Amin Imron) dan jajarannya. Supaya ke depan Tanjung Bumi yang dianggap sebagai icon batik bisa semakin terpromosikan. Sehingga akan memberikan dampak pada pengrajin dan pelaku usaha di bidang batik,” ujarnya usai serap aspirasi kepada pengrajin batik di Tanjung Bumi, Selasa (9/3).

Kemudian, pria yang akrab disapa Ra Nasih itu mengaku khawatir geliat wisata yang tumbuh di desa tersebut akan dilupakan jati dirinya. “Tanjung Bumi ini walaupun banyak wisata, tentu jati dirinya adalah batik,” paparnya.

Ketua DPD Nasdem Bangkalan itu menambahkan, persoalan batik Tanjung Bumi akan menjadi perhatian serius. Pihaknya akan menyuarakan keluhan masyarakat pengrajin batik. Selain itu, dia juga berharap agar ada kebijakan-kebijakan yang pro pembatik tulis dari pemerintah provinsi maupun daerah.

“Yang mendukung bagaimana pengembangan sektor UMKM khususnya di bidang kerajinan batik, serta melalui badan usaha milik daerah kita akan menyuarakan ini agar ke depan ada p