Kritik Guru dan Reaksi Berlebihan
Isu sensitif muncul ketika sebuah media mainstream lokal di Madura memberitakan adanya menu MBG yang disajikan seadanya di sekolah. Kritik ini disampaikan oleh seorang wali kelas.
Sebagai pendidik yang sehari-hari berinteraksi dengan siswa, sang guru tentu memiliki legitimasi moral untuk menyuarakan kondisi nyata yang ia lihat. Ia tidak sedang mencari sensasi, melainkan sekadar menyampaikan kegelisahan: apakah anak didiknya benar-benar mendapatkan makanan bergizi sesuai janji Presiden?
Namun, alih-alih dianggap sebagai masukan, kritik itu justru menimbulkan polemik. Ada pihak-pihak yang menyalahkan guru tersebut, seolah-olah tindakannya mencoreng program pemerintah.
Padahal, sikap menyalahkan justru menempatkan guru dalam posisi rentan. Ia hanya melaksanakan tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak mendapat haknya.
Reaksi berlebihan semacam ini berbahaya. Jika guru saja takut bersuara, siapa lagi yang berani mengungkapkan kekurangan di lapangan?
Jangan sampai budaya anti-kritik membuat kita abai terhadap kualitas pelaksanaan program. Sebab yang dipertaruhkan bukan citra pejabat, melainkan masa depan anak-anak bangsa.














