banner auto
banner auto

Haul ke 343, Momentum Kebangkitan dan Mengenang Perjuangan Pangeran Trunojoyo

Haul Pangeran Trunojoyo Sampang
Sejumlah sejarawan, budayawan bersama perwakilan pemerintah daerah dan anggota DPRD Sampang hadir di Haul Trunojoyo ke 343, Senin (16/1). (Foto: Evan for MID)

maduraindepth.com – Komunitas Madura Tempoe Doeloe (MTD) Kabupaten Sampang menggelar haul ke 343 Pangeran Trunojoyo. Berlangsung di Situs Pababaran Trunojoyo, di jalan Pahlawan Gang VIII Sampang, kegiatan ini dihadiri sejumlah sejarawan dan budayawan, Senin (16/1).

Proses peringatan haul ke 343 Pangeran Trunojoyo diawali dengan pembacaan Surat Yasin. Kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama mengenang jasa Pangeran Trunojoyo.

banner auto

Wakil Ketua MTD Kabupaten Sampang, Ach. Bhucori menyampaikan, peringatan haul ini bertujuan untuk mengenang jasa Pangeran Trunojoyo semasa perjuangannya membela masyarakat Madura, khususnya Sampang. Menurut dia, jejak perjuangan Pangeran Trunojoyo mulai terlupakan oleh masyarakat.

”Makanya untuk mengenang jasa-jasa Trunojoyo, kami adakan haul ini ke 343 tahun dari wafatnya pada 16 Januari 1680 di Bantul, Yogyakarta,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, Pangeran Trunojoyo layak diakui sebagai pahlawan nasional. Salah satu bukti perjuangannya yakni menumpas para penjajah dan melawan ketidakadilan. Sementara, warisan budaya yang ditinggalkan Trunojoyo untuk masyarakat Sampang dan Madura adalah soal tata krama dalam kehidupan sosial yang patut dijadikan contoh.

”Perilaku dan keberanian pangeran Trunojoyo layak dijadikan contoh bagi masyarakat untuk membela kebenaran,” ucapnya pada maduraindepth.com.

Salah satu contoh perilaku pangeran Trunojoyo yang masih harus diikuti adalah sikap tidak sombong dan mengayomi masyarakat kecil. ”Jadi kalau rakyat kecil ditindas, Trunojoyo akan bangkit jiwa kepahlawanannya,” tegas Buchori.

Baca juga:  Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional, Said Abdullah: Mensos Setuju Segera Diproses

Tidak hanya itu, lanjut Bhucori, kedekatan Pangeran Trunojoyo kepada masyarakat Sampang tidak bisa diragukan. Sebab, pada sejarahnya kala itu Madura terbagi menjadi dua wilayah. Pertama, wilayah Timur meliputi Sumenep dan Pamekasan, kemudian wilayah Barat terdiri dari Sampang dan Bangkalan.

”Jelas lebih dekat di sini, karena Trunojoyo dilahirkan di Sampang,” jelasnya.

Sementara itu, Asisten I Pemerintah Kabupaten Sampang, Anang Djoenaedi Santoso mengaku, nilai perjuangan dan keberanian pangeran Trunojoyo dalam menghadapi bangsa Asing dirasa relevan untuk dijadikan tauladan bagi masyarakat Sampang. Terutama dalam memotivasi dalam membangun Sampang  lebih baik.

“Seperti prinsip sikap berani mengambil resiko dan langkah besar menunjukkan terobosan pembangunan, merupakan representasi dari perjuangan Trunojoyo,” terangnya.

Dia menambahkan, segala bentuk perjuangan dan perilaku berani Trunojoyo harus menjadi cambuk bagi masyarakat Sampang. Sehingga terus berjuang dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang pernah dilakuan pangeran Trunojoyo untuk kemajuan Sampang.

”Kita tetap melanjutkan perjuangan, nilai keteladanan pangeran Trunojoyo harus tetap mendarah daging di jiwa kita masyarakat Sampang,” pungkasnya. (Alim/AJ)

banner auto banner auto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info