Opini  

Abad, Adat dan Adab dalam Dunia Pendidikan

RIZQI FITRA NASRULLAH guru SMAN 1 Sumenep
Rizqi Fitra Nasrullah. (IST)

Oleh: Rizqi Fitra Narrullah, M.Pd (Guru SMAN 1 Sumenep)

maduraindepth.com – Sistematika pembelajaran di abad 21 merupakan suatu peralihan sistem pembelajaran, dimana kurikulum yang dikembangkan menuntun sekolah untuk mengubah pendekatan pembelajaran dari teacher centred menjadi student centered. Hal ini sesuai dengan tuntutan masa depan, dimana peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar.

Abad 21 merupakan abad di mana teknologi berkembang begitu pesat. dimana mulai dikenal istilah media sosial, seperti Friendster, Facebook, Twitter, Instagram, whatsapp dan masih banyak lainnya. Hal itu juga berdampak pada sistem pembelajaran para peserta didik. Maka, muncul istilah pembelajaran abad 21.

Adapun cirikhas dari pembelajaran abad 21 adalah menggabungkan kecakapan literasi, kemampuan pengetahuan, keterampilan, perilaku, serta penguasaan teknologi secara bersama-sama. Artinya, di abad ini peserta didik tidak hanya dituntut untuk mahir dalam ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, peserta didik juga harus terampil dalam menggunakan teknologi, menjadi insan literat, serta berakhlak yang baik.

Itulah mengapa kompetensi yang harus dimiliki di abad 21 ini disebut sebagai 4C yang mencakup creativity and innovation, collaboration, communication, and critical thinking and problem solving.

Tidak hanya itu, pembelajaran di abad ini juga harus berbasis HOTS (high order thinking skill) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi. Artinya, tiap-tiap mata pembelajaran mengarahkan murid-muridnya untuk dapat memecahkan kasus sulit yang ada didalam soal-soal ujian.

Baca juga:  Tetap Isi Kegiatan Positif Selama Liburan, SMANSA Gelar Event Pena Mata

Karena adanya tuntutan perekembangan  pendidikan yang seperti ini, maka pemerintah membuat formulasi khusus agar terjadi pemerataan pendidikan di setiap daerah. Sehingga mulai tahun 2017 melalui pengkajian yang cukup panjang dan memperhatikan rekomendasi dari berbagai lembaga kredibel.

Zonasi dipandang strategis untuk mempercepat pemerataan di sektor pendidikan. sebagaimana disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud saat itu) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa zonasi menjadi salah satu strategi pemerintah yang utuh dan terintegrasi. Dikotomi sekolah favorit dan tidak favorit sudah mulai tidak terasa saat ini dengan adanya sistem zonasi. Sekalipun dalam perjalanannya tidak sedikit menuai polemik dikalangan masyarakat.

Minggu ini sekolah-sekolah melaksanakan rangkaian kegiatan awal masuk sekolah yang saat ini disebut MPLS (Masa PengenalanLingkungan Sekolah). MPLS merupakan pengganti untuk istilah Masa Orientasi Siswa (MOS). MPLS diterapkan mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).

Adapun kegiatan MPLS seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencangkup pengenalan program sekolah, pengenalan cara belajar di sekolah, pengenalan konsep diri, pembinaan awal kultur sekolah, pengenalan sarana dan prasarana sekolah.

Tidak hanya itu MPLS juga bertujuan untuk mengenali potensi peserta didik baru melalui formulir profil peserta didik yang terdiri dari identitas, riwayat kesehatan, potensi atau bakat, ifat atau perilaku, dan profil orang tua atau wali. Membantu peserta didik beradaptasi dengan aspek keamanan, fasilitas umum, dan sarana prasarana sekolah. Mengembangkan interaksi positif antar peserta didik dan warga sekolah. Dan yang paling penting menumbuhkan perilaku positif, jujur, mandiri, menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, disiplin, serta hidup bersih, sehat dan beradab.

Baca juga:  Idul Fitri dan Kontroversi Gol Jepang Piala Dunia 2022

Adab sangat penting untuk dimiliki oleh para pelajar saat ini. Sebagaimana menjadi tradisi orang-orang terdahulu dalam mencari ilmu. Orang-orang dulu belajar adab dulu sebelum belajar ilmu. Makanya ketika ilmunya datang maka adabnya sudah lengkap. Namun adat orang sekarang lebih mengutamakan mengejar ilmu terlebih dahulu dibandingkan belajar adab. Makanya pada saat dia menuntut ilmu adabnya tidak dipakai.

Hal ini akan tampak dari para pencari ilmu dari segi bicaranya, cara menyapa gurunya, cara bertingkah laku dengan gurunya, dan bagaimana cara dia menghargai gurunya saat gurunya menyampaikan ilmu kepadanya.

Karena sebenarnya mencari ilmu itu ada caranya, yakni belajar adab mencari ilmu. Sehingga saat ilmunya dititipkan dalam sanubarinya, ilmunya akan berkembang bersamaan dengan adabnya. Dari berkembangnya ilmu dan adab inilah nantinya akan melahirkan generasi-generasi yang rahmatan lil alamin.

Poin terpenting yang ingin saya sampaikan kepada adik-adik yang saat ini posisinya sabagai penuntut ilmu atau yang saat ini sedang MPLS (Masa pengenalan Lingkungan Sekolah) yakni, ada baiknya anda jangan pernah melakukan penilaian kepada orang yg mengajar (Guru). Apalagi mengeluarkan kalimat kalimat yang tidak beradab. Karena saya rasa ini merupakan hal yang tidak baik.

Fokuslah anda mencari ilmu dan pelajaran. Dapatkan semuanya dengan baik dan benar. Maka dengan ilmu dan adab itulah anda akan mendapatkan kemuliaan dan kesuksesan yang seutuhnya. (*)

Baca juga:  Budaya Positif Sebagai Sarana Pengembangan Diri

Dapatkan Informasi Menarik Lainnya DI SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *