Ziarah Sunyi

Ziarah Sunyi
Oleh : Mas@be Zain*

maduraindepth.com – Setiap orang, memiliki kegilaannya sendiri. Jika ia tidak gila di tempat itu, ia akan menemui kegilaannya di lokasi yang lain. Begitulah Michel Foucault dalam Madness and Civilization (1961). Kegilaan harus diasingkan, disendirikan, agar tidak menulari makhluk sosial lainnya. Gila itu harus disembuhkan para pawang. Di sinilah pawang berjuang segigih mungkin, dengan satu syarat, tidak boleh merasa berjasa.

Kegilaan itu menghinggapi banyak aspek; gagasan, tindakan, dan nilai, yang disaksikan masyarakat normal baik berbentuk penerimaan atau penolakan. Ia berseberangan dengan mainstream, menabrak kewajaran dalam logika orang normal, anomali.

Tetapi bagaimana jika kegilaan itu bertahta di jaman edan? Ronggowarsito, ratusan tahun silam, sebagai pujangga, telah menuliskan syair. Bumi kehilangan keseimbangan, jaman sudah gila. Siapa saja yang tidak gila di jaman gila tersebut, dialah yang secara fatamorganik akan disebut gila. Sepintas, persepsi puitik Ronggowarsito terbukti, hari ini.

Ketidakwarasan telah menjadi kewajaran realitasa, dalam banyak kasus. Seseorang yang hendak menjadi sesuatu yang diinginkannya, tidak lagi menjadikan potensi, tidak menempatkan kualifikasi dalam sebuah posisi. Sebab poin penting yang dianggap urgensi dalam meraih obsesi hanya dua kata, orang dalam.

Pestisida-artikulatik ini meracuni diri tanpa disadari. Memang, generasi bangsa secara kuantitas, sulplus. Walaupun, secara kualitatif, minus. Implikasi dari kenyataan empirik ini, sesuai hukum Newton 1, menggergaji mutu, yang mengakibatkan kondisi negeri, berada pada satu titik yang disebut ngeri, atau horor, dalam bahasa yang mudah dimengerti. Ini juga yang menyebabkan barbarianisme dan kegilaan itu menjadi sudut yang dimaklumi, bukan satu realitas yang musti didekonstruksiI
Itulah sebagian yang dihasilkan masyarakat saat ini, yang dalam bahasa Sayyed Hussein Nashr disebut dengan nestapa manusia kontemporer. Sebuah produk yang sebenarnya cukup alamiah untuk diciptakan manusia pada diskursus ayang digapainya, salah satunya ditempuh dengan kewajaran-deviatif. Padahal, di fatsun ini, ketidakbersambungan bukan soal ketidakdekatan dengan orang dalam, melainkan karena sinyal-ilahiah yang tercerabut dari titik koordinat langit.

Oleh sebab itu, kisah Mar’ah (pengembala) di era sufi ini menarik dihadirkan kembali. Ia, tidak hanya menghalau domba peliharaannya. Namun ia merawat domba dan serigala yang sama. Di dalam teori, saat domba dan srigala berada di tempat yang sama, hanya dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, domba lari terbirit-birit, ketakutan, karena bersama srigala. Tetapi, di tangan perempuan itu, keduanya hidup rukun dan damai, mengapa?

Ketika perempuan itu ditanya, mengapa bisa membuat domba-srigala hidup damai berdampingan? Ia bercerita bahwa sejauh ini menciptakan ritme, membuat hubungan yang baik terhadap yang di Atas. Baiknya hubungan dengan yang di Atas itu, memudahkan hubungan antar penghuni yang berdiam di atas bumi. Ia meyakini, kroditnya sinyal dengan Raja Langit, menciptakan sinyal krodit yang jauh lebih buruk dengan sesama penghuni bumi. Domba-srigala, hanya satu dimensi saja, yang berhasil dikomunikasikan dengan baik tanpa harus menerkam satu sama lain. Seringkali, manusia menggunakan pemancar lokal dan lupa bahwa di langit ada satelit. (*)

* Penulis merupakan seorang Akademisi, Kolumnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info