Saut Situmorang: Kalau Isi Otak Dikontrol Maka Semakin Gampang Dijajah

0
410
Kritikus sastra, Saut Sitomurang saat ceramah sastra di acara Festival Aksara Manifesco di Pamekasan, 21 Desember 2019. (Umar Fauzi Ballah for MI)

maduraindepth.com – Kanon sastra tidak terjadi begitu saja. Kanon itu sangat politis. Kalau bacaan dikontrol, isi otak dikontrol. Kalau isi otak dikontrol, semakin gampang dijajah.

Itulah kata pengantar yang diucapkan oleh Saut Situmorang, penyair dan kritikus sastra Indonesia kelahiran Sumatera Utara saat memberikan ceramah sastra pada puncak Festival Aksara Manifesco, Sabtu malam (21/12) kemarin.

Bertempat di Kafe Manifesco, Jalan Jalmak, Pamekasan, acara ini bertajuk “Sastra Indonesia di Hadapan Sastra Dunia”.

Festival Aksara Manifesco yang berlangsung selama tiga hari, sejak Kamis (19/12) sampai Sabtu (21/12), juga mendatangkan penulis dan penyair asal Madura di antaranya, D. Zawawi Imron, A. Dardiri Zubairi, M. Faizi, Muna Masyari, dan Ongky Arista Ujang Arisandi.

Di hadapan puluhan peserta, Saut Situmorang banyak menjelaskan tentang kritik sastra dan novel yang dinilai memberikan dampak negatif terhadap adat yang berada di Indonesia.

“Di samping ia mengontrol apa yang kita baca, ia juga mengontrol apa yang kita tulis. Menulis dan membaca itu berbarengan. Seperti novel Siti Nurbaya, sangat negatif terhadap adat asli, bangsa-bangsa di Nusantara. Supaya Indonesia malu terhadap adatnya, dan diharuskan menulis seperti itu, menulis yang menista budayanya sendiri,” tutur kritukus sastra yang pernah mendapat penghargaan International Poetry Competition, New Zealand Poetry Society (1992) tersebut.

Lebih lanjut, Saut memberikan contoh sebuah karya yang dinilai dapat menista kebudayaan yang berada di bumi pertiwi.

“Contoh yang paling terkenal dan kalian rayakan setiap tahun itu adalah Kartini. Kartini konon menulis surat kepada orang Belanda yang menista budaya sendiri. Akhirnya, surat-surat ini diterbitkan dan dikasih judul sangat romantis Habis Gelap Datanglah Terang. Artinya, gelap itu adat kita. Terang itu adalah datangnya Belanda,” jelasnya yang membuat penonton semakin antusias menyimak setiap detail materi yang disampaikan oleh penulis buku Khotbah Hari Minggu tersebut.

Sementara itu, penyelenggara Festival Aksara Manifesco, Mapung, pemiliknya mengatakan bahwa bermulanya acara tersebut karena kesukaannya membaca buku dan berharap dapat menularkannya kepada masyarakat luas.

“Karena kebetulan suka baca, ya bikin acara dengan temen-temen yang punya minat sama, guna membangun iklim literasi,” katanya.

Acara Festival Aksara Manifesco juga dimeriahkan oleh peluncuran buku Bintang Kugalah Bulan Kudapat, hasil sayembara puisi, dan berbagai penampilan yang disiapkan oleh panitia dan pembacaan puisi oleh peserta. (RUK/AW)