Ramadhan dan Kenangan Masa Kecil

Ramadhan
Holikin
Oleh: Holikin, S.Pd.I

maduraindepth.com – Memandang lamat-lamat album foto masa kecil, membawa saya pada kenangan lama. Nampak, saya tengah membawa tali dan sepotong kayu papan seukuran sekitar 30 cm. Berpose ria bersama dua orang teman laki-laki dan dua perempuan yang tak lain itu sepupu saya sendiri. Entah, saya lupa, dimana lokasi potret itu diambil. Yang jelas, seingat saya foto itu diambil pas momen bulan suci Ramadhan. Demikian dapat dengan mudah saya tebak, karena terdapat tali dan sepotong kayu papan dalam foto itu.

Bulan Ramadhan merupakan satu bulan yang paling kami tunggu. Tak hanya karena di bulan itu sekolah SD dan diniyah diliburkan. Namun, ada momen bahagia, apalagi ketika menjelang santap sahur.


Di kampung saya, setiap bulan Ramadhan memiliki tradisi “gendrang”, mirip dengan tradisi “daul” di perkotaan, yang bertujuan untuk membangunkan masyarakat bersantap sahur. Gendrang, semacam pertunjukan musik jalanan yang peralatan musiknya seadanya. Tradisi ini masih berlangsung hingga kini, meskipun tak semarak tempo dulu.

Momen kebahagiaan lain di bulan suci Ramadhan, yaitu berhubungan dengan tali dan sepotong kayu papan yang terdapat dalam foto saya tersebut. Dulu, hampir semua anak-anak di kampung saya selepas salat subuh, mereka berkumpul, berencana mengadakan semacam event permainan. Baru setelah pagi, sekira matahari baru menyembul di balik laut, mereka pergi dan bermain di pantai sebelah selatan kampung.

Untuk pantai selatan ini, penduduk setempat biasa menyebutnya “dellaoenna”. Tali dan sepotong kayu papan itu digunakan sebagai ayunan. Biasanya kami membawa dua tali atau satu tali yang ukurannya cukup panjang. Membuatnya cukup mudah. Di dellaoenna ini terdapat banyak pepohonan terutama pohon kenari. Dua ujung tali cukup diikatkan di ranting pohon kenari dan dua ujung lainnya diikatkan di sepotong kayu papan itu. Bermain ayunan itu baru selesai setelah azan Zuhur berkumandang, karena kami harus pergi ke musala untuk mengaji.

Baca juga:  Mas Halim, Rumahmu Dulu Dimana?
Tonton Video

Sayangnya, bermain ayunan di pagi bulan Ramadhan ini sudah tak ada lagi. Permainan anak-anak di kampung saya saat ini beralih dari dunia natural menjadi digital. Mereka seperti sibuk bercumbu-cumbu dengan sepetak layar kecil miliknya, mengucil di bawah atap kamarnya masing-masing.

Tak hanya bermain ayunan, permainan tradisional banyak kami nikmati di bulan Ramadhan. Selain untuk mengisi waktu luang agar kami lupa akan perut yang sedang keroncongan, bermain sebagai ajang mengolah skill, dan tentu pula hitung-hitung sebagai sarana menunggu azan Maghrib, atau istilah sekarang; ngabuburit.

Masa kecil saya begitu dekat dengan alam. Alam seolah menjadi sekolah kedua bagi kehidupan masa kecil kami, dan Ramadhan adalah gurunya. Masa-masa gabut di bulan Ramadhan, dimana waktu itu libur sekolah formal, kami isi dengan sembarang kegiatan. Bersama teman-teman sebaya kami membuat kerajinan dari ranting daun pohon kenari dan membuat aneka permainan dari daun pandan. Pohon pandan ini dulu banyak dijumpai di pinggiran pantai dan sekarang sudah sulit saya temui. Kami cukup lihai membuat kerajinan apa saja dari bahan dasar alam ini, yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh anak-anak saat ini.

Baca juga:  Politik Lokal Ajang Perebutan Kekuasaan

Bahkan, tatkala air laut sedang surut, kami membuat perahu dari styrofoam bekas yang banyak menyampah di pinggir pantai yang kemudian kami adu balap. Demikian terus berlangsung seru hingga kemudian kami pulang sesaat sebelum tiba azan Maghrib untuk berbuka. Keseruan ini mengajarkan kami bekerja dalam tim, belajar untuk jujur, dan kadang menyoraki teman lainnya yang apabila perahu miliknya terpental terbalik oleh karang dibarengi dengan gelak tawa yang terurai bersama-sama.

Ramadhan tempo lalu, mungkin bagi anak-anak zaman old, seperti lebih berwarna dengan permainan tradisionalnya jika dibandingkan dengan zaman now yang waktunya hanya dihabiskan dalam kamar. Alam seperti mengajarkan banyak hal. Tentang kesederhanaan, indahnya persahabatan, dan juga pengelolaan potensi diri yang berkaitan dengan kreativitas, dan sebagainya.

Anak-anak tempo dulu seperti tahu waktu, kapan waktu bermain dan kapan waktu belajar tanpa harus selalu dipantau perkembangannya oleh orang tua. Di musala kami mengembangkan budi lewat petuah-petuah suci para kiyai, melalui pelafalan an-in-un, alla-balla-talla yang terdapat dalam lembaran Al-Baghdadi yang kami lagukan dengan menarik. Di alam, tepatnya di pinggiran pantai kami adu kreatif, dan yang paling banyak menelurkan inovatif di bidang pengelolaan alam itu yang dianggap paling unggul. Dan kepada yang paling unggul itu kami beri penghargaan berupa gelar “jago”. Jago berarti hebat. Kemudian kepadanya banyak meminta diajari.

Baca juga:  Bias Pandemi dan Kultur Baru Kita

Di samping kenangan-kenangan indah bersama teman-teman itu, tak lupa juga mengenang kedua orang hebat yang potretnya terpampang di paling depan album foto itu. Mereka berdua adalah orang tua saya. Di foto itu nampak mereka tersenyum sumringah, seperti tahu persis bahwa waktu itu berdua sedang dipotret. Kenangan tentangnya begitu tak terkata. Saya biasa berada di depan ibu saya ketika beliau mengulek bumbu masakan buat berbuka. Saya mengamati, sesekali mencium nikmat aroma bumbu masakannya. Satu yang pasti, jika ada yang kurang saya diteriaki, disuruh membeli sesuatu di warung yang cukup berjarak dari rumah.

Setiap bulan suci, kenangan-kenangan itu terus kembali diputar, tak terkecuali di bulan Ramadhan yang berlangsung ini. Semua kenangan itu seolah terpampang jelas di depan mata, sembari seperti memberikan satu pengajaran tentang betapa saya hanyalah makhluk lemah, yang tentu bila tiba masanya nanti akan tiada dan digantikan dengan generasi selanjutnya.

* Penulis merupakan Guru dan penulis asal Pulau Mandangin – Sampang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here