Polemik BPNT Belum Selesai, Mahasiswa Kembali Turun Jalan

0
55
Sejumlah masiswa saat lakukan pembacaan yasin di depan kantor Pemkab Sumenep. (Foto: MR/MI)

maduraindepth.com – Tak selesai mendemo Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terkait polemik Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), kini sejumlah mahasiswa kembali turun jalan, Kamis (23/1/2020).

Mahasiswa yang tergabung di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pengurus Komisariat (PK) Universitas Wiraraja (Unija) kembali datangi Bank Mandiri kantor cabang Sumenep dalam menanyakan pemblokiran e-Warung di Kecamatan Lenteng.

Tak lama berorasi, para massa aksi ditemui langsung oleh Kepala Bank Mandiri kantor cabang Sumenep, Sony Minarsa. Pihaknya mengatakan bahwa pihak bank tidak pernah melakukan tendensi apapun terhadap e-Warung yang menjadi agennya.

Sony menjelaskan, pihak bank memang harus melakukan pengondisian e-Warung apabila tidak sesuai dengan amanat Tim Koordinator (Tikor) Kabupaten.

“Siapapun yang tidak sesuai dengan jalur dan oprasional sesuai dengan pedoman umum, ya mohon maaf kami harus melakukan pendisiplinan, termasuk pada e-Warung yang menjadi agen bank,” katanya, saat dikonfirmasi awak media.

Jadi, Sambung Sony, jika ada e-Warung diblokir, itu bukan berarti pihak bank mengintimidasi, akan tetapi itu dilakukan untuk mendisiplinkan para e-Warung yang tidak sesuai dengan peraturan umum yang telah ditetepkan.

Usai mendapatkan klarifikasi dari pihak Bank Mandiri, para massa aksi bergeser ke kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat untuk menemui Sekretaris Daerah (Sekda).

Sayangnya, usaha mahasiswa yang ingin bertemu itu berakhir sia-sia. Pasalnya, tak ditemui Sekda para massa aksi malah melakukan pembacaan surat yasin di depan Pemkab setempat.

Mahasiswa melakukan orasi sekitar satu jam lebih, namun aspirasinya itu tak kunjung terjawab. Mereka menilai, Sekda Sumenep, Edy Rasiyadi, sebagai Tikor Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tak becus dalam memberikan bantuan kepada masyarakat miskin.

Bahkan, selain membacakan surat yasin, para massa aksi juga menaburkan kembang babur dan kemenyan di depan kantor Pemkab setempat.

“Temuan kami banyak, persoalan BPNT ini ternyata tidak hanya dari kualitas beras yang jelek, dan ada beras plastik. Melainkan ada juga pemblokiran e-Warung oleh Bank Mandiri, makanya demo pertama tadi kami awali disana untuk menanyakan persoalan tersebut,” ungkap Dimas Wahyu, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi pada awak media.

Salah satu tuntutan mahasiswa, yakni tidak terserapnya sisa 38.000 Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan Keluarga Penerima Manfaat (Manfaat).

“Sisa 38.000 KKS dan KPM yang belum tersalurkan, ini bagaimana ?, Kalau Sekda tidak becus mengurus persoalan ini lebih baik turun saja,” ucap dia.

Mahasiswa juga merasa jengkel, sebab Sekda terkesan sengaja tidak menemui para massa aksi. Dimas mengatakan, jiwa Sekda Sumenep telah mati.

“Kami kecewa karena Sekda tak temui kami. Maka dari itu kami anggap jiwa Sekda telah mati. Oleh karena itu, kami bacakan surat yasin, dan menaburkan kembang babur serta kemenyan,” terang dia.

Mereka berjanji, dengan kekecewaan sebab tak ditemui Sekda, para mahasiswa akan merapatkan barisan dengan massa yang lebih banyak untuk melakukan unjuk rasa susulan secara besar-besaran.

“Kami akan menunggu disini sampai Sekda temui kami. Tapi kalau tetap, kami akan layangkan surat ke Bupati, dan akan membawa massa lebih banyak lagi,” teriak Dimas, di kantor Pemkab Sumenep. (MR/AJ)