Penjualan Masker di Sampang Turun Drastis, Seribu Masker Disumbangkan ke Pondok Pesantren

Masker Sampang
Pemuda sedang menjual masker di pinggir jalan di Jalan Jamaluddin Kecamatan Sampang. (Foto: RIF/MI)

maduraindepth.com – Memasuki bulan ke empat dalam masa pandemi Covid-19 di Kabupaten Sampang, penjualan masker yang awalnya meningkat pesat, saat ini turun drastis.

Mulanya, dalam penjualan masker para pedagang mampu menghabiskan sekitar 500 lembar masker perhari. Namun per Juni 2020 hanya mampu menghabiskan sebanyak 20 lembar per hari.


Seperti yang dialami Saki (32), warga asal Desa Petapan, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang. Menurutnya, saat ini penjualan masker sudah mulai mengalami penurunan secara drastis, bahkan untuk menghabiskan 50 masker saja perhari sangat kesulitan.

“Perhari hanya mampu menghabiskan 20 sampai 25 masker, kalau waktu awal-awal corona bisa menghabiskan 500 masker perhari,” ucap dia saat berbincang dengan wartawan maduraindepth.com.

Kata Saki, karena jumlah penjualan mengalami penurunan dia harus berpindah lokasi. Menurutnya, jika hanya berjualan di satu tempat hanya laku 10 lembar.

“Kalau hanya di satu lokasi, biasanya hanya terjual 10 masker,” ujar Saki.

Berbeda dengan yang dialami Moh. Saiful (34). Warga Kampung Kranggan, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan kota ini juga melakukan penjualan masker melalui CV. Syaif Aqmal Jaya.

Saiful mengatakan, stok masker yang dijualnya kini masih tersedia 5 ribu lembar. Seribu diantaranya telah dia sumbangkan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Assirojiyyah, Kajuk, Sampang saat launching pesantren tangguh beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Bupati Pamekasan Harap PT Garam Lebih Perhatikan Kesejahteraan Petani

Tidak hanya masker, Saiful juga menyumbangkan 4 jerigen isi 5 liter desinfektan, dan 20 unit wastafel portabel yang merupakan sisa dari penjulan. Kata dia, hal itu dilakukan untuk mendukung pesantren tangguh agar kesehatan para santri juga bisa dijaga kesehatannya dari pandemi Covid-19.

“Semoga bisa mendapat barokah pondok pesantren,” ucap Saiful berharap. (RIF/MH)