Organisasi Mitra SRPB Dapat Pelatihan COVID-19 di Trawas

SRPB Jawa Timur COVID-19
Ketua SRPB Jawa Timur Dian Harmuningsih saat membuka Rakor BPBD Jawa Timur, Sabtu (22/8). (Foto: RIF/MI)

maduraindepth.com – Puluhan organisasi mitra sekretariat relawan penanggulangan bencana daerah (SRPB) Jawa Timur mendapat pelatihan penanganan COVID-19. Pelatihan diberikan dalam agenda rapat koordinasi (Rakor) BPBD Jawa Timur.

Salah satu organisasi relawan bencana yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah forum relawan penanggulangan bencana (FRPB) Kabupaten Sampang. Kegiatan dilaksanakan di Obis Camp, Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Mojokerto.


Di hari kedua, kegiatan ini kembali dibuka oleh Koordinator SRPB Jawa Timur, Dian Harmuningsih. Para peserta tampak khidmat saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu Mars Tangguh.

“Rakor ini diawali dengan pelatihan-pelatihan karena merupakan program lanjutan dari Posko Gabungan di Kodam V Brawijaya beberapa waktu lalu,” ujar Dian pada maduraindepth.com, Sabtu (22/8).

Kata Dian, pelatihan yang diberikan kepada peserta itu bisa diajarkan kepada anggota organisasi relawan bencana mitra SRPB Jawa Timur. Kemudian mereka juga bisa mensosialisasikan penanganan COVID-19 kepada masyarakat maupun komunitas.

Ada empat program pelatihan yang diberikan kepada peserta. Yakni kerumunan masa, masjid tangguh pasar tangguh dan InaRisk.

“InaRisk sangat penting bagi para pengurus organisasi mitra agar mereka juga mengetahui ancaman bencana di sekitarnya. Termasuk bahaya COVID-19,” terang pemateri InaRisk, Wawan Kimiawan.

Kegiatan tersebut terbagi menjadi dua kelas. Yakni kelas indoor dan outdoor.

Peserta juga diajari tentang bagaimana cara menguploud kegiatan mereka di InaRisk personal. Dengan menguploud ke aplikasi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bisa mengetahui kegiatan-kegiatan para relawan dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Baca juga:  Dispertan Sampang Siapkan Pestisida Gratis Bagi Petani

Sementara pemateri masjid tangguh, Budi Cahyono mengungkapkan, mengatur perilaku masyarakat dalam menghadapi COVID-19 sangat susah dan payah. Menurutnya, untuk dibutuhkan kesadaran dan sosialisasi secara terus menerus.

Bahkan, untuk memudahkan masyarakat, dia mengaku organisasinya di Pamekasan memberi layanan penyemprotan disinfektan ke sejumlah rumah ibadah melalui WhatsApp. “Cukup di WA, kami 24 jam melayani rumah-rumah ibadah di Pamekasan,” ucapnya.

Menurut Budi, dengan menggunakan WhatsApp pihaknya bisa menembus birokrasi dan aturan yang njelimet. (RIF/MH)