Mengungkap Kehidupan Waria di Madura (Part 2)

0
656
Kelompok waria mengikuti lomba gerak jalan di Sampang

maduraindepth.com – Menjadi waria di Madura tak semudah dengan di tempat lain. Budaya yang sangat kental dengan norma agama membuat waria-waria di Madura harus siap dengan segala risikonya. Maklum, waria merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam. Agama dimana mayoritas penduduk Madura memeluknya.

Meski demikian, jumlah waria tidaklah berkurang. Sebaliknya, setiap tahun jumlahnya tambah banyak. Seperti apa mereka menjalani kehidupannya di tengah masyarakat Madura?

Tidak Pernah Dilahirkan tapi Terus Bertambah

Setiap tahun jumlah waria di Madura, khususnya Sampang terus bertambah. Penambahan jumlah tersebut paling mudah dilihat saat acara pawai peringatan kemerdekaan. Jika tahun lalu, jumlah mereka mencapai dua kelompok. Padahal tahun sebelumnya tidak demikian.

Semakin banyaknya waria di Sampang diakui Icha Natasya. Kepada maduraindepth.com Icha mengatakan jika penambahan waria tersebut tidak hanya di Kota Sampang. Tapi hingga pelosok-pelosok desa.

“Waria memang tidak terlahir, tapi terus bertambah,” ungkap waria yang memiliki nama asli Muhammad Yusuf itu.

Menurut Icha, dari sekian banyak jumlah waria, mayoritas dari mereka memenuhi kebutuhan hidupnya melalui bisnis salon. “Rata-rata usaha salon dan rias pengantin,” jelasnya.

Icha sendiri salah satu waria yang sukses berbisnis salon. Nama salon yang dia kelola adalah Icha Salon. Letaknya di Jalan Syamsul Arifin. Di sana, Icha tinggal sendiri. Hanya sesekali dia ditemui oleh pria asal Mojokerto yang dia anggap sebagai suaminya.

Terorganisir dan Sangat Menghormati Senioritas

Mengungkap kehidupan waria di Madura
Waria terorganisir dan sangat menghormati senioritas.

Meski mengakui bahwa jumlah waria di Sampang terus bertambah Icha tak mau menyebutkan berapa jumlah pastinya. “Di setiap kecamatan ada, bahkan di pelosok desa ada tapi saya ndak tahu berapa jumlahnya,” ucapnya.

Apakah ada perkumpulannya? Icha menjawab ada. Dia mengatakan jika dirinya tergabung dalam Perwakos (Perwakilan Waria Kota Sampang). Namun setelah menyebutkan organisasi itu Icha mendadak diam. Bahkan saat ditanya siapa ketua Perwakos, Icha menolak untuk mengungkapnya.

Ditanya apakah kalangan waria memiliki agenda untuk mengajak orang menjadi waria, dengan tegas Icha membantahnya. Menurut dia, tidak mungkin laki-laki sejati mau menjadi waria.

Kalau laki-laki tulen masa mau diajak jadi waria.  Waria kan memang dari kecil punya kepribadian seperti cewek. Akhirnya lambat laun mereka punya sifat seperti itu (waria, red). Apalagi didukung oleh pergaulan. Saya kan dulu waktu ke Bali masih laki-laki. Nah karena pergaulan di Bali akhirnya saya jadi waria,” papar Icha.

Icha menambahkan, dalam dunia waria berlaku senioritas. Biasanya, senioritas dilihat dari lamanya menjadi waria. “Kalau yang lebih lama dari saya ya senior saya. Tapi junior saya juga lebih banyak,” ucap pria yang memutuskan jadi waria sejak 13 tahun silam.

Belum Dilirik Politisi

Bertambahnya jumlah waria di Sampang ternyata belum dilirik oleh para politisi. Buktinya, hingga saat ini Icha dan kawan-kawan tak pernah didatangi calon wakil rakyat untuk membantu pemenangan dalam pemilu.

“Seperti yang saya katakan sebelumnya (baca: Mengungkap kehidupan Waria di Madura part 1), kita ini dipandang sebelah mata. Kadang saya bertanya-tanya, apa kesalahan kita? Kita itu dianggap sampah masyarakat,” tuturnya.

Icha mengaku tak mau selamanya menjadi waria. Dia ingin kembali menjadi normal seperti laki-laki kebanyakan. Menikah dan memiliki keturunan. Namun, Icha mengaku dirinya tidak mungkin mendahului para seniornya.

“Tapi suatu saat saya ingin berubah menjadi laki-laki yang sebenarnya. Karena saya ingin punya keturunan. Nanti kalau saya sakit siapa yang mau merawat,” pungkasnya. (bersambung).