Mengungkap Kehidupan Waria di Madura (Part 1)

Muhammad Yusuf alias Icha Natasya berpose saat ditemui maduraindepth.com.

maduraindepth.com – Madura dikenal sebagai pulau yang penduduknya sangat agamis. Kehidupan sehari-hari masyarakat di pulau ini tak lepas dari norma agama Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, nilai-nilai itu kian pudar. Madura kini menyimpan banyak sisi gelap tentang pelanggaran aturan agama.

Salah satu perbuatan yang melanggar aturan agama adalah perilaku pria yang menyerupai wanita (waria). Dalam Islam, perilaku tersebut dikenal dengan istilah mutakhonnits. Meski jelas-jelas diharamkan, namun jumlah waria kian hari kian bertambah. Ini terjadi di seluruh Madura. Mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan hingga Sumenep.

banner 728x728

Dulu Muhammad Yusuf, Sekarang Icha Natasya

Muhammad Yusuf lahir di Sampang pada 24 April 1987. Namun pria asal Jalan Pahlawan ini seperti terlahir dua kali dalam hidupnya. Pada 2006 lalu, Yusuf memutuskan untuk menjadi Icha Natasya.

Perubahan nama panggilan tersebut seiring dengan perubahan penampilannya. Yusuf yang dulu ganteng kini menjadi Icha yang jelita. “Saya lebih percaya diri menjadi perempuan daripada laki-laki,” ucap Icha saat ditanya alasannya menjadi waria.

Keputusan menjadi waria tidak datang begitu saja. Icha mengaku sejak kecil dia sudah tertarik kepada laki-laki. Namun, tekadnya semakin bulat setelah dia merantau ke Bali pada 13 tahun silam.

Awalnya Icha ke Bali untuk mencari kerja. Di sana Icha mendapat pekerjaan sebagai karyawan di sebuah salon. Sejak itu Icha memiliki banyak teman sesama pegawai salon. Baik salon tempat dia kerja maupun dari salon lain.

Icha mulai tertarik menjadi waria setelah membangun komunikasi dengan pegawai dari salon berbeda. Kebetulan temannya itu seorang waria. “Biasa dik, saling curhat. Lama-lama saya semakin yakin untuk menjadi waria seperti teman saya,” paparnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Tak lama menjadi waria, Icha mendapatkan pujaan hati. Seorang pria berwargakenegaraan Australia menjadi kekasihnya selama di Bali. Tanpa menyebutkan siapa namanya, Icha mengatakan, sang kekasih sangat mendukung dirinya menjadi seorang waria. “waktu itu dia yang biayai untuk suntik payudara,” ungkap Icha.

Kepada Maduraindepth Icha menegaskan baginya tidak ada nama siang dan nama malam. “Sekarang siang malam nama saya Icha,” tegasnya dengan suara khas kebanyakan waria.

Icha tahu jika keputusannya menjadi waria dilarang dalam agamanya. Sebagai muslim Icha menyadari bahwa dirinya telah menyalahi kodrat. “Dalam agama memang nggak boleh. Dilarang. Saya lebih tahu dari Anda. Cuma saya sekarang itu sudah menemukan jati diri saya sebenarnya,” ungkapnya.

Ditolak keluarga, Dicemooh Tetangga

Genit: Icha Natasya sempat ditolak keluarga dan tetangga.

Menjadi waria bukanlah hal mudah. Icha Natasya mengalami pahit getirnya bertingkah seperti wanita. Hal itu dia alami ketika kembali ke tanah kelahirannya di Sampang. “Saya pulang ke Sampang karena kekasih saya meninggal,” ucap Icha.

Icha menjelaskan, selama memiliki kekasih orang Australia, dia tak perlu bekerja lagi di salon. Tiap hari biaya hidupnya ditanggung oleh sang kekasih. “tiap hari dikasih Rp 2 juta,” papar Icha.

Dari uang itulah alumni SMA Negeri di Sampang ini bisa mengirim uang bulanan ke keluarganya yang ada di Sampang. Menurut Icha, semula keluarganya tidak tahu bahwa dirinya menjadi waria. Semua keluarganya penasaran dengan pekerjaan dia di Bali karena setiap bulan mengirim uang. Icha sempat merasa bingung antara berterus terang atau tidak.

“Keluarga saya nanya terus, kamu kerja apa di Bali?,” ucap dia menirukan tanya keluarganya.

Singkat cerita, dia mengakui bahwa dirinya menjadi seorang waria. Mendengar jawaban itu, keluarganya di Sampang pun kaget dan menolak keputusan tersebut. Namun, diawali  pengakuan itulah Icha berani untuk kembali ke Sampang.

“Akhirnya saya pulang ke Sampang. Semua keluarga saya kaget melihat penampilan saya yang begini,” tuturnya kepada reporter Maduraindepth.

Meski lama tak pulang, Icha tak mendapat sambutan hangat dari keluarganya. Penampilan Icha yang seperti wanita itulah yang menjadi alasan keluarga menolak kehadirannya. Menurut Icha, saat itu keluarganya enggan bertegur sapa dengan dirinya.

“Pernah saya itu berpapasan dengan paman. Waktu itu dia beli rokok di warung. Perasaan saya gimana gitu, karena paman saya tidak menoleh sama saya, apalagi menyapa,” ujarnya dengan raut wajah sedih.

Icha juga mengaku sedih jika ingat masa-masa awal pulang ke Sampang. Banyak tetangga yang mencemoohnya. “Kalau saya lewat, mereka bisik-bisik lalu tertawa. Saya tahu pasti mereka menertawakan penampilan saya,” tutur Icha yang kini sudah diterima oleh keluarga dan lingkungannya.

Tak Mau Mengelabuhi Tuhan

Sekilas siapapun pasti mengira Icha adalah wanita sejati. Parasnya yang ayu dengan lekuk tubuh seperti wanita membuat Icha tampak seperti wanita. Terlebih, Icha terbiasa mengenakan pakaian wanita.

Meski demikian, penampilan tersebut tidak berlaku saat dia menjalankan ibadah shalat. Dalam urusan shalat, Icha mengaku jika dirinya berpenampilan layaknya laki-laki. Tidak mengenakan mukena. Icha mengenakan sarung layaknya laki-laki

”Sudah hidup kita seperti ini, masa kita mau mengelabuhi Tuhan?,” ungkapnya. (bersambung)

banner 728x728

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info