Manusia dan Kresek Kebenaran

Penulis adalah Ketua Ranting Ansor Bancamara Pulau Oksigen. (FOTO: Abu Rakso for MI)
Oleh : Abu Rakso

maduraindepth.com – Persoalan kehidupan tidak akan berakhir selama terikat dengan dunia. Dunia diciptakan dengan berbagai permasalahannya agar kita (umat manusia) punya pemikiran yang komprehensif agar mempunyai ketegaran dalam gerakan yang solutif.

Acuan utamanya, segalanya bergantung pada kebenaran dan kasih sayang Tuhan. Bukan pada kebenaran dan seolah benar-benar bertindak sebagai wakil Tuhan. Menghakimi, mengacarai dirinya sendiri tanpa peduli keamanan orang lain.


Sifat seolah paling bertuhan dan mentuhankan diri sendiri, kelompok masing-masing dengan pola jihad takfiri petanda telah keluar dari konsensus kenabian. Sebagaimana telah dikisahkan ada seorang Yahudi sowan pada kanjeng nabi, nabi pun memperlakukan dengan penuh rasa cinta dalam bingkai humanisme.

Aliran yang bertujuan mempertahankan, menghidupkan perikemanusiaan dan mencita-citakan pada pergaulan yang lebih baik, maka pantas untuk dirawat secara bersama. Yang mana, humanisme atau aliran renaissance yang menjadikan sastra klasik dalam bahasa Latin dan Yunani sebagai dasar seluruh peradaban kemanusiaan.

Oleh karenanya, setiap manusia tidak punya dalil untuk mengaku dirinya yang terhebat, paling beragama, paling taat, paling anti maksiat. Padahal itu hanya tipu daya dari sifat Syaitan. Akan lebih bijak menyadari, mengevaluasi diri bahwa kebenaran yang kita miliki sebagai manusia tidak ubahnya sekantong kresek.

Bila mana keangkuhan kekuasaan menjadi raja dan egoisme bergama menjadi ratu, itu artinya telah berada dalam ruang kosong dan kerontang dalam ilmu pengetahuan. Ibnu Sina berujar, “tak ada penyakit yang bisa disembuhkan kecuali kemalasan. Tak ada obat yang tak berguna kecuali kurangnya pengetahuan”.

Baca juga:  Revolusi Industri 4.0 Mencengkeram Generasi Muda?

Kalau kita sama-sama menelaah pada rasa yang paling dalam dan sunyi, maka kita akan masuk pada kesadaran yang hakiki bahwa tidak pantas dan merasa malu untuk berperilaku brengsek.

Bagi penulis, orang-orang yang berani membuat kekerasan, berani memperkosa hak orang lain, bukan karena terseret oleh hilangnya rasa kejahatan tetapi disebabkan oleh hilangnya madad (pancaran cahaya Ilahi) dalam jiwanya. (*)

* Penulis Adalah Ketua Ranting Ansor Bancamara Pulau Oksigen