banner auto
banner auto

Biosaka, Alternatif Pengganti Pupuk dan Pencegahan Hama Penyakit Tanaman

Biosaka
Kelompok Tani Suka Makmur bersama PPL dan mahasiswa magang Agribisnis UTM melaksanakan sosialisasi terkait pembuatan dan penggunaan biosaka di Desa Batu Putih Laok, Kecamatan Batu Putih, Sumenep, Kamis (17/11). (Foto: MID27)

maduraindepth.com – Kelompok Tani Suka Makmur bersama PPL dan mahasiswa magang Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melaksanakan sosialisasi terkait pembuatan dan penggunaan biosaka. Sosialisasi tersebut dilaksanakan di Desa Batu Putih Laok, Kecamatan Batu Putih, Sumenep, Madura, Kamis (17/11).

Imam, salah satu mahasiswa magang Agribisnis UTM menuturkan, sosialisasi tersebut akan terus berlanjut, hingga petani di Desa Batu Putih Laok paham terhadap cara pembuatan dan pengaplikasian biosaka. Selain itu, pada kesempatan itu, para petani berharap pasca sosialisasi lanjut digelar pelatihan dan pendampingan terkait pembuatan biosaka.

banner auto

Diterangkan, kegiatan tersebut dilakukan untuk mengatasi kekurangan dan kelangkaan pupuk. Termasuk penanggulangan hama pada tanaman dengan bantuan bahan alam yang tersedia.

Biosaka, kata Imam, merupakan larutan yang terbuat dari dedaunan. Biosaka ditemukan oleh warga Blitar, yaitu M Anshar pada 2006 lalu. Kemudian, manfaat biosaka itu telah berhasil diuji dan diperkenalkan Prof Robert Manurung, seorang ahli dari ITB.

Menurut Imam, proses pembuatan biosaka ini sangat sederhana. Karena hanya membutuhkan dedaunan segar yang ada di lingkungan sekitar dan tidak terbatas jenis. Untuk hasil maksimal, penggunaan daun perlu dilakukan dengan 5-20 jenis daun.

Berikut Tahapan Pembuatan dan Penggunaan Biosaka

Beberapa tahapan dalam pembuatan biosaka,  yaitu menyiapkan ember/bak, botol (600 mili liter), penyaringan, wadah, air dan daun. Daun yang dibutuhkan sekitar 1 genggam penuh. Setelah dedaunan didapatkan, perlu memasukkan air ke dalam ember/bak sekitar 3 botol (bisa mencapai 3 hingga 5 liter air).

Baca juga:  Swalayan Adirasa Terbakar, Ini Penyebabnya

Tahapan selanjutnya, yaitu mulai melakukan proses pemerasan daun di dalam air yang sudah dituang ke dalam ember. Lakukan tahapan tersebut secara terus menerus sekitar 10 hingga 15 menit hingga mencapai kekentalan tertentu.

Kekentalan dapat dilihat dengan penggunaan alat Total Dissolved Solids (TDS) yang menunjukkan angka 500 sampai 1000. Setelah itu, perlu dilakukan penyaringan untuk memisahkan cairan dengan sampah daun. Tahapan akhir, masukkan cairan yang sudah jadi ke dalam botol atau wadah untuk disimpan.

Sedangkan penggunaan biosaka ini dapat diimplementasikan ke berbagai jenis tanaman dengan cara penyemprotan. Perbandingannya, setengah gelas biosaka dicampur dengan 7 liter air. Pada teorinya, penyemprotan dapat dilakukan dengan dosis 40ml biosaka dengan 15 liter air yang cukup untuk 1 hektar lahan.

“Proses penyemprotan sendiri dapat dilakukan setiap 5 hari sekali di pagi atau sore hari. Manfaat dari katalisator ini, dapat mengurangi penggunaan pupuk dan mencegah tanaman dari serangan hama penyakit,” pungkas Imam. (MID27/*)

banner auto banner auto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info