Tradisi Marung di Madura

0
133
Suasana Warung saat masyarakat lakukan kebiasaan Marung setiap pagi. (Foto: MH/MI)

maduraindepth.com – Marung. Kata yang kaprah disebutkan di Desa. Dimana para kaum muda, dewasa, sampai yang tua menghabiskan waktu pagi dan malam di warung kopi.

Istilah Marung telah menjadi tradisi dari regenerasi sejak dulu. Tepat di Dusun Gunung Malang II, Desa Kertagena Laok, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura. Bahkan di empat Kabupaten lainnya kata Marung mempunyai makna yang berbeda.

Setiap hari, masyarakat Desa Kertagena Laok ini selalu meramaikan isi warung. Tak ayal jika warung di Dusun Gunung Malang selalu padat dikunjungi warga.

Kebiasaan inilah yang terus mentradisi di masyarakat pada umumnya. Bahkan sempat tercipta jargon di salah satu warung Desa ini yang menyebutkan “Beli 1 bungkus aroma, gratis kopi senilai Rp.1.500,-“. Artinya, meski ada kopi di rumah lebih terasa saat membelinya di warung.

Selain sebagai tradisi, Marung atau masyarakat yang tengah menikmati kopi di warung sebagai bukti pengikat persaudaraan dan silaturahmi antartetangga dan kampung lainnya.

Dikatakan begitu, sebab warga yang hendak Marung telah membawa topik pembahasan baik sosial maupun politik, peristiwa dan lain sebagainya untuk dibahas bersama saat minum kopi.

“Ini sudah menjadi tradisi dari sesepuh kita dari dulu, jadi Marung ini untuk mengikat persaudaraan kita bersama saudara, tetangga dan warga kampung lain,” ujar Marsukah (60) salah satu penikmat kopi di warung itu, Minggu (23/6).

Selain Marung dilakukannya sewaktu pagi, kata Marsukah, malam juga menjadi sebab mengapa Marung tetap ramai.

“Jadi biasanya jadwal Marung itu, tergantung dari mereka mengisi kekosongan saat tidak bekerja. Kalau pagi itu sekira pukul 06.00-09.00 WIB, masyarakat pada umumnya Marung. Malam kembali Marung sekira pukul 19.00 WIB. Kenapa begitu ? Sebab untuk menyudahkan bekerja baik petani maupun kuli bangunan, mereka memilih untuk kembali Marung,” terangnya kepada Wartawan maduraindepth.

Sementara kata pemilik warung, Buk Ramli menganggap bahwa masyarakat telah biasa melakukan Marung itu setiap hari.

“Ini sudah setiap hari dari dulu, jadi sudah biasa, masyarakat biasanya paling banyak kalau pagi, sebelum berangkat bekerja mereka sudah ada di warung untuk ngopi,” katanya kepada media ini.

Berbicara harga kopi, Buk Ramli sapaan akrab masyarakat sekitar, menjelaskan bergaram harga, tergantung pemilik warung sendiri.

“Kalau harganya relatif, ada yang Rp.2.000, ada yang Rp.1.500. Kalau disini hanya patok harga Rp.1.500 saja,” terangnya.

Sekedar diketahui, jenis kopi di setiap warung juga beragam rasa. Termasuk warung Buk Ramli. Olahan kopi inilah yang menjadi pembeda banyaknya masyarakat singgah dan mencari yang lebih nikmat warung di Desanya.

Sementara, esensi Marung sendiri sudah lahir sejak dibangunnya keakraban antarmasyarakat Desa dalam berbaur menjalin persaudaraan. (MR/MH)