banner auto
banner auto
Opini  

Terwujudnya Pola Pikir Positif, Budaya Kerja yang sehat dan Good Governance

Abd Rahman
Abd. Rahman.
oleh: Abd. Rahman, M.Pd.

maduraindepth.com – Pola pikir adalah elemen penting untuk memulai sesuatu. Pola pikir adalah pondasi yang akan mengantarkan kesuksesan kita di masa depan. Namun, bisa saja sebaliknya. Jika pikiran kita cendrung negatif dan berfikir mundur itu akan menghambat dan mempengaruhi langkah kita meraih kesuksesan. Maka, seseorang yang cerdas akan menempatkan pola pikir pada urutan strategis untuk memainkan perannya dalam menentukan pencapaian dan kesuksesan. Pada dasarnya Pola pikir ini terbagi menjadi dua jenis yaitu Pola pikir tetap (fixed mindset) dan Pola pikir bertumbuh (growth mindset). Pola pikir tetap adalah pola pikir bawaan yang diyakini bahwa kemampuan dan bakat yang kita miliki merupakan pemberian tuhan yang dibawa sejak lahir dan tak dapat berkembang. Sedangkan bertumbuh atau berkembang merupakan pola pikir seseorang yang diyakini bisa berubah dan berkembang dengan bekerja keras, berlatih dan memiliki keyakinan jika bakat hanyalah titik awal.

Tanpa kita sadari, Banyak sekali cara agar pola pikir tetap bisa tumbuh dan berkembang dan bisa kita gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat untuk menjalani hidup, menggapai cita-cita akan terasa lebih ringan jika kita memulainya dengan memainkan pikiran kita dengan mulai dengan menyusun dan merencanakan sejak dini. Hal yang penting dalam perubahan pola pikir adalah bagaimana kita bisa mengendalikan dan mengelola diri kita agar lebih maju dan berkembang. Maka, cobalah memulainya dengan mencatat, menjadwalnya, dan menyusun rencana dengan matang, dan akan lebih berdampak pada perubahan diri kita dan orang lain di sekitar kita.

Meskipun apa yang kita lakukan tak berjalan mulus, karena suatu hari apa yang kita lakukan akan mengalami gagal dalam menyusun rencana, ketika membuat rencana baru seorang pemikir akan merubah rencana baru dan kegagalan menjadi pelajaran di kemudian hari yang tidak akan terulang dan kita akan belajar dari kesalahan yang kita lakukan. Orang yang memilih mindset berkembang, mereka akan melatih dirinya untuk bisa menjadi lebih banyak mencoba tantangan baru dan jika mengalami kegagalan akan dijadikan sebagai peluang untuk lebih berkembang. Dan pemikiran seperti ini sering kita sebut dengan pemikiran positif (Positive thinking). bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda, dan kita tak boleh menyerah sampai kita berada di puncak kesuksesan. Intinya adalah kita harus percaya, ada keyakinan pada diri kita dan tak kalah penting adalah hilangkan praduga negatif pada orang lain. Karena energi negatif akan mempengaruhi pikiran sehat kita untuk berbuat lebih baik untuk diri kita dan orang lain.

Pola pikir positif ini harus juga ditanamkan sebagai konsep aktualisasi reformasi pada semua elemen; birokrasi pemerintahan, Dunia Pendidikan dan Aparatur Desa sebagai dapur pengelolaan pemerintahan yang baik, professional dan mengedepankan layanan prima yang akan bermuara pada kepuasan masyarakat diberbagai sektor.

Budaya sering dikaitkan dengan pemikiran, adat-istiadat, kebiasaan, atau peninggalan, tradisi yang sulit kita ubah. Namun, budaya harus kita jadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kemandirian dan harus kita hubungkan dengan kegiatan kita sehari-hari di dunia kerja. Budaya kerja merupakan suatu kebiasaan, prilaku, sikap dan kegiatan yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan tanggungjawabnya dalam memenuhi kewajiban dalam pekerjaan.

Kebiasaan positif menjadi pendorong seseorang untuk memiliki semangat, disiplin, sikap, prilaku, pendapat, pandangan untuk maju dan meningkatkan etos kerja yang baik. Namun, kebiasaan negatif akan cendrung menjerumuskan orang pada kebiasaan yang sebaliknya. Bermalas-malasan, sering melakukan pelanggaran, kurang disiplin dan selalu gagal dan tak bertanggungjawab dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Budaya kerja yang sehat selalu memberikan energi kerja, mengubah sikap dan prilaku, dan dapat meningkatkan kinerja dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Budaya yang sehat akan mewujudkan budaya kerja yang sehat. Meningkatnya akuntabilitas, pelayanan prima sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Bukan hanya itu, birokrasi kerja yang sehat akan melahirkan integritas yang tinggi sesuai dengan budaya kerja yang kita impikan di masa depan. Budaya kerja yang sehat akan bermanfaat bagi kualitas kerja itu sendiri, meningkatnya jiwa gotong royong, meningkatnya kebersamaan kerja, membangun komunikasi yang baik dalam suasana kerja yang baik, meningkatkan kinerja, tanggap dalam perkembangan, saling terbuka satu sama lain, terjalinnya jiwa kekeluargaan, dan terciptanya budaya kerja yang professional. Hal ini penting kita catat, dan kita aplikasikan agar budaya kerja kita sehat dan SDM kita maju dan siap menghadapi persaingan global yang nyata kita lihat di masa sekarang.

Budaya kerja yang sehat juga erat kaitannya dengan konsep pengelolaan yang melibatkan semua unsur baik pemerintahan, masyarakat dan pihak lain dalam pembangunan dalam sebuah perusahaan, pemerintahan atau lembaga yang dikelola dengan baik atau dikenal dengan good governance. Konsep ini merupakan pandangan atau tekad mewujudkan pengelolaan yang professional dan menuju penerapan layanan prima sebagai harapan yang diimpikan masyarakat. Pada konteks ini, perlu kebijakan dan penerapan pengelolaan yang cepat, tanggap dan tak berbelit-belit. Memotong setiap hambatan yang terlalu birokratif dan memakan waktu yang lama dan sering membuat birokrasi terkesan buruk dan nasabah atau klien (masyarakat) tak terlayani dengan baik sehingga membuat citra lembaga/ perusahaan menjadi buruk di masyarakat.

Menurut Prof. Dr. Mustopadidjaya AR, mengatakan, “Pelayanan berarti pula semangat pengabdian yang mengutamakan efisiensi dan keberhasilan bangsa dalam membangun yang dimanifestasikan antara lain dalam prilaku melayani bukan dilayani, mendorong bukan menghambat, mempermudah bukan mempersulit, sederhana bukan berbelit-belit, terbuka untuk setiap orang, bukan hanya segelintir orang”.

Pandangan tersebut, jelas menggambarkan bahwa harus ada tekat yang kuat dan semangat untuk melakukan perubahan di semua sisi, melakukan pembenahan diri, lingkungan dan budaya kerja yang baik untuk terciptanya sebuah ikhtiar bersama dalam mengembangkan budaya kerja yang prima dalam melayani dengan sepenuh hati. Dalam sekolah misalnya, maka guru kita harus melayani siswa-siswi kita dengan baik, di sebuah desa juga sama, layani rakyat sebagai penikmat layanan dari sistem yang kita bangun untuk kita sajikan sebaik mungkin. Pun demikian di dalam birokrasi pemerintahan semoga juga bisa menerapkan good governance yang baik. (*)

banner auto banner auto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info