Santo Merto, “Raja Bayangan” yang Nyaris Terlupakan

Pangeran santo merto
Faisol Ramdhoni saat berziarah di makam Pangeran Santo Merto. (FOTO: Penggiat Komunitas Sarjana Kuburan for MI)
Oleh: Faisol Ramdhoni*

maduraindepth.com – Saat saya menginjakkan kaki di pasarean Pangeran Santo Merto, saya merasa tidak berdiri di sebuah situs yang bersejarah. Karena di situs tua yang berada di Kampung Takobuh, Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang Kota ini, tampak kurang diperhatikan.

Padahal dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Pangeran Santo Merto merupakan saudara Rato Ebuh yang menjadi pemangku pemerintahan di Pulau Madura yang berkedudukan di Sampang pada masa pemerintahan Raden Praseno. Tentunya, sangat terkait erat dengan sejarah awal mula berdirinya Kabupaten Sampang.


Ahli sejarah Belanda HJ De Graff kemudian meneliti lebih jauh terkait relief itu. Dalam bukunya yang berjudul De Op Komst Vab R Trunojo (1940), De Graff bahkan menulis tentang momen pengangkatan Raden Praseno sebagai Raja Madura Barat lengkap dengan tanggal kejadian. Dia menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Rabiā€™ul Awal 1039 Hijriyah yang bertepatan dengan 23 Desember 1624 Masehi adalah hari penetapan Raden Praseno yang bergelar Pangeran Cakraningrat I menjadi penguasa Madura Barat dengan Sampang sebagai pusat kerajaan.

De Graff juga menuliskan, dalam surat titahnya, Sultan Agung juga menegaskan bahwa Pangeran Cakraningrat I berhak menerima payung kebesaran kerajaan beserta upeti sebesar 20 ribu Gulden. Secara de jure dan de facto, surat titah tersebut merupakan bukti otentik dan sekaligus menjadi kebanggaan bagi warga Madura Barat yang kala itu cakupan kekuasaan wilayahnya meliputi Sampang, Arosbaya dan Bangkalan atas terpilihnya Raden Praseno.

Baca juga:  Saatnya Kyai Kembali ke Khittah

Akan tetapi meskipun Raden Praseno telah ditetapkan menjadi penguasa Madura Barat, konon ia jarang berada di Sampang. Sebab, saat itu tenaganya sangat dibutuhkan Sultan Agung untuk mengawal Kerajaan Mataram. Praktis, jalannya roda pemerintahan di Kerajaan Madura Barat seringkali diwakilkan kepada pamannya, Pangeran Santo Merto.

Sehingga nyaris hampir semua pengelolaan jalannya pemerintahan kerajaan Madura Barat saat itu dalam kendali Pangeran Santo Merto. Jika disesuaikan dengan pengistilahan zaman sekarang, Pangeran Santo Merto merupakan Pelaksana Tugas (Plt) atau Penjabat (Pj) Penguasa Daerah. Atau bisa disebut sebagai “Raja Bayangan” Madura Barat.

Namun, jabatan sebagai “Raja Bayangan” itulah yang mungkin membuatnya nyaris terlupakan. Sehingga situs makam pangaren Santo Merto tampak kurang mendapatkan perawatan. Tidak seperti di situs makam Rato Ebuh Madegan. Di situs Madegan, Bangunan cungkup makam tampak bagus dan megah. Sedangkan di Makam Pangeran Santo Merto, cungkup makam tampak kusam dan sudah mengeropos.

Tidak hanya itu, belakangan ini di saat peringatan Hari Jadi Sampang pun, makam Pangeran Santo Merto luput untuk diziarahi. Sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri yang turut andil dalam sejarah berdirinya Kabupaten Sampang.

Bangunan Gerbang (Gapura) di pintu masuk Makam Pangeran Santo Merto adalah saksi bisu sejarah. Gapura yang di atasnya terdapat ukiran kaligrafi arab itu, diperkirakan seumuran dengan gapura di situs Makam Madegan. Artinya, keberadaan makam Pangeran Santo Merto tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebagai situs sejarah, mestinya makamnya cukup layak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama dengan situs di Madegan.