Tradisi Toron Tana di Madura: Simbol Awal Mengenal Kehidupan

Toron tana
Tradisi Toron Tana di Kabupaten Sampang, Madura, Ahad, 12 Juni 2022. (FOTO: Alimuddin/MI)

maduraindepth.com – Tradisi Toron Tana atau Tedak Sinten (turun tanah) tidak hanya ada di daerah Jawa. Upacara yang dilakukan untuk bayi usia sekitar tujuh bulan ini juga ada di Pulau Madura.

Kata Toron Tana berasal dari dua suku kata. Yakni Toron yang berarti turun, dan Tana yang berarti tanah. Maka Toron Tana merupakan ritual bagi orang Madura yang menandakan bahwa seorang anak manusia mulai dibenarkan menginjakkan kakinya pertama kali ke tanah.


Ritual ini khusus dilakukan bagi bayi yang sudah berumur tujuh bulan. Dalam usia tersebut bayi mulai mengenal benda-benda yang dilihat dan disentuh atau diambil yang di hadapannya. Harapannya agar si bayi mengenal tempat dia hidup.

Meski demikian, setiap wilayah di Madura mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menggelar upacara Toron Tana. Baik dalam bentuk ritual maupun tata pelaksanaannya.

“Tradisi Toron Tana untuk anak usia 7 bulan sebagai pertanda awal bahwa anak akan mengetahui simbol-simbol kehidupan dalam fase tumbuhnya hingga nanti,” ucap Pamong Budaya Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang, Dewi Riskin Apriana, Ahad (12/6).

Dari tradisi itu, kata Dewi, ada sebagian masyarakat Madura yang menggelar upacara Toron Tana di tempat-tempat sakral dan keramat. Seperti makam para wali dan lainnya. Sebab diyakini di tempat tersebut akan menumbuhkan berkah yang lebih besar.

Baca juga:  Kirab Budaya Terater Tajhin Sappar, Bupati Sampang Sambut Kedatangan MTD Trunojoyo

Adapun tujuan dasar menggelar tradisi ritual Toron Tana adalah sebagai bentuk harapan. Supaya kelak anak bisa menjadi orang yang berbakti kepada kedua orang tua, serta berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Biasanya, kesempatan bahagia ini diselenggarakan pada siang hari. Kegiatan dilaksanakan di bagian depan rumah dengan sejumlah perlengkapan yang harus disiapkan terlebih dahulu dalam ritual ini. Seperti makanan tettel [makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam].

“Seperti biasanya ada tettel dengan tujuh warna, angka ganjil itu menunjukkan arti bagi orang muslim bahwa dalam Islam mengarah pada keyakinan kalau Alloh itu tunggal,” ujar Dewi.

Dalam proses acara itu juga disediakan air komkoman. Yakni air yang dituangkan ke dalam mangkuk, dimana didalamnya terdapat tujuh jenis bunga. Sebuah lengser (nampan) yang didalamnya terdapat seikat padi, jagung, Al-Qur’an, tasbih, cermin, bolpen, buku tulis, handphone, uang, sisir dan barang lainnya sesuai keinginan keluarga.

Dalam penyelenggaraan ritual tersebut, selain kedua orang tua si bayi, diundang pula kerabat dekat, mertua, dari pihak laki-laki atau perempuan, tetangga, undangan dan seorang ustadz atau kiai yang bertugas membaca salawat atau membaca doa.

Proses pelaksanaan pun cukup unik. Setelah para kerabat, tetangga dan undangan sudah hadir, anak dibawa ke hadapan para undangan dengan memakai pakaian baru. Biasanya ustadz atau kiai oleh tuan rumah diberi amanah untuk membaca doa atau bacaan lain sesuai permintaan tuan rumah.

Baca juga:  Minta Lestarikan Karapan Sapi, Ini Kata Bupati Sumenep

Selanjutnya si anak menginjakkan kedua kakinya pada tiga lengser tettel yang sebelumnya sudah dilapisi dengan daun pisang [agar tidak kotor ketika diinjak]. Kemudian si anak diletakkan di depan nampan yang berisi Al-Quran, tasbih, handphone, cermin, uang, buku tulis, bolpen, padi, jagung dan sisir. Setelah itu si anak diminta untuk mengambil salah satu barang yang ada dalam nampan.

Menurut kepercayaan masyarakat, jika anak mengambil Al-Qur’an, maka ketika dewasa dia akan menjadi seorang yang senang membaca atau cinta pada Al-Qur’an. Jika anak tersebut mengambil padi atau jagung ketika dewasa dia akan menjadi orang petani. Jika anak tersebut mengambil sisir atau cermin, anak tersebut akan menjadi anak yang suka sekali bersolek.

Jika anak mengambil emas dia akan dipercayai menjadi orang kaya. Jika anak mengambil tasbih ketika dewasa dia akan menjadi seorang kiai atau nyai serta orang yang senang berzikir. Pun jika dia mengambil buku atau bolpen dia akan menjadi seorang yang terpelajar.

Benda yang dipilih oleh si anak, oleh orang tua dan yang hadir ditafsirkan sebagai petunjuk mata pencaharian apa yang kelak dapat membahagiakan hidupnya. Demikian pula benda yang dipilih oleh si anak itu juga sebagai gambaran dari sifat dan watak si anak kalau sudah dewasa.

Baca juga:  Ziarah ke Makam Rato Ebu, Slamet Junaidi: Kita Bangun Kejayaan Sampang

“Ada banyak variasi dan sedikit perbedaan di setiap daerah, terutama di empat kabupaten di Madura pun juga tidak sama dalam pelaksanaan dan perlengkapan yang disediakan. Hanya saja kalau di Sampang mayoritas si anak harus duduk dan berdiri di atas tettel kemudian berjalan sambil menginjaknya,” jelas Dewi.

Setelah itu, si anak akan dibawa ke halaman rumah untuk diinjakkan kakinya ke tanah pertama kalinya dengan harapan si anak cepat bisa berjalan. Kemudian setelah acara memilih benda dianggap selesai acara diakhiri dengan makan bersama.

Dewi menuturkan tradisi turun tanah sendiri mulai punah. Sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan oleh masyarakat, pasalnya saat ini banyak dari masyarakat dalam merayakan tujuh bulan anaknya cukup dengan membuat nasi tumpeng sudah selesai.

“Kami berusaha melestarikan tradisi itu, salah satunya dengan membukukan agar masyarakat tidak hanya tahu mendengar cerita saja, tetapi paham kalau itu memang tradisi kita dan perlu dikasih tahu untuk melestarikannya. Apalagi satu kabupaten saja di setiap daerah ada perbedaan makanan, kami akan bukukan warisan tradisi ini untuk dilestarikan dalam tulisan,” tutupnya. (Alim/MH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here