Ghibah, Fitnah, dan Namimah: Dosa yang Diremehkan
Allah Ta’ala dengan tegas mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun, banyak di antara kita yang masih mudah membicarakan aib orang lain dengan alasan bercanda, berbagi cerita, atau merasa paling benar.
Buhtan lebih berbahaya lagi karena sengaja menciptakan kebohongan tentang orang lain yang sebenarnya tidak ada padanya. Seperti mengatakan bahwa si fulan telah melakukan ini dan itu, padahal kenyataannya si fulan tidak berbuat apa-apa.
Buhtan ini dosanya lebih besar daripada ghibah karena mengandung dusta besar dan fitnah.
Allah Ta’ala berfirman dalam surah Annur ayat 16:
وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ
Artinya:
“Dan mengapa kalian tidak berkata di waktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” [QS: Annur: 16]
Fitnah sangat berbahaya bagi seorang muslim karena mengandung kebohongan yang disebarkan. Sedangkan namimah merusak hubungan dengan menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan memecah belah.
Peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan bahwa apa yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawaban, sekecil apa pun itu. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Isra, ayat 36:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti (mengatakan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” [QS: Al-Isra: 36]














