Muhasabah Diri di Zaman Modern
Di era digital, lisan tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga tulisan: komentar, unggahan, pesan berantai, dan berita yang dibagikan tanpa tabayyun. Betapa mudahnya kita terjerumus ke dalam ghibah dan fitnah hanya dengan satu klik.
Sungguh kasihan mereka yang mudah percaya dengan perkataan orang yang berbuat buhtan. Padahal dalam Islam kita sudah diajarkan untuk tidak mudah percaya dengan kabar/berita yang belum jelas sumbernya.
Sudahkah kita menjaga ucapan dan tulisan kita? Apakah yang kita sampaikan membawa manfaat atau justru menyakiti?
Apakah kita lebih senang membicarakan kekurangan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri?
Mengingat siksaan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya membuat kita takut dan lebih berhati-hati dalam berbicara.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS: Al-Hujurat: 6]
Oleh karenanya, mari kita pahami bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan panggilan untuk memperbaiki diri. Gambaran siksaan bagi pelaku fitnah, ghibah, dan namimah adalah peringatan agar kita menjaga lisan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan akhlak mulia.
Semoga dengan muhasabah diri, kita mampu menjadikan lisan sebagai sarana dzikir, nasihat, dan kebaikan, bukan sumber dosa yang menjerumuskan ke dalam azab Allah SWT. Semoga Allah menjaga kita dari dosa lisan dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah SAW di akhirat kelak. Aamiin. (*)














