Harga Anjlok, Petani Garam di Pamekasan Kerja Sampingan Jadi Nelayan

Ashari, petani garam asal Pamekasan saat di lahan pegaramannya. (Bad/MI)

maduraindepth.com – Tahun ini harga garam turun cukup drastis. Para petani pun banyak menjerit. Kalau tahun 2018 harga garam per ton berkisar Rp 1.200.000 – Rp 1.300.000, kini “emas putih” itu hanya dihargai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per tonnya.

Ashari, petani garam asal desa Baddurih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Madura, saat ditemui maduraindepth.com, Kamis (3/10/2019) mengaku hanya bisa pasrah.


Berbagai usaha sudah dilakukan termasuk melakukan aksi unjuk rasa menuntut pemerintah memperhatikan nasibnya bersama ratusan petani garam lainnya. Namun hingga detik ini kenaikan harga yang dijanjikan pemerintah hanya isapan jempol belaka.

“Saya ingin harga garam stabil. Karena biaya beli peralatan seperti alas plastik itu cukup mahal,” ucap Ashri dengan suara lirih.

Menurut bapak tiga anak ini, para petani garam di desanya sangat resah. Untuk mencukupi kebutuhannya, dia dan petani yang lain bekerja sampingan.

“Ada yang bekerja sebagai nelayan, dan banyak juga bercocok tanam,”terangnya.

Ashari mengaku, garam miliknya dijual ke daerah Branta Pamekasan hingga ke pulau Jawa dengan harga murah. (Bad/AW)