banner auto

Harapan Pemkab Sampang : Desa Bisa Maju dan Mandiri Melalui DD

Desa di Sampang
Peta Kabupaten Sampang. (FOTO: MH/MI)

maduraindepth.com – Di penghujung tahun 2020 ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang berharap desa-desa di Sampang mampu berinovasi dalam mengelola desa melalui Dana Desa (DD). Ini untuk menuju desa berkembang, maju dan mandiri.

Seperti yang disampaikan Wakil Bupati Sampang H. Abdullah Hidayat, Senin (28/12). Sebagai mantan kepala desa, ia berharap di penghujung tahun 2020 semua desa sudah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sehingga pada tahun 2021 setiap desa di Kabupaten Sampang sudah bisa menjadi desa maju dan mandiri.

“Saat ini kita sudah aman dan sudah keluar dari yang namanya desa tertinggal, dari hal ini kita bisa mengembangkan desa dari tertinggal menjadi desa berkembang, desa berkembang menjadi desa maju dan dari desa maju kita bisa menjadi desa mandiri, di mana dengan desa mandiri itu kita sudah tidak lagi membutuhkan bantuan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Daerah. Karena sudah mandiri,” tuturnya.

Bahkan, pria yang kerab disapa H. Ab tersebut menjelaskan, dari 180 desa di Kabupaten Sampang saat ini hanya tersisa 5 desa yang masih belum memiliki BUMDes. Sementara 175 desa lainnya sudah memiliki BUMDes dan sudah menuju desa berkembang

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sampang Chalilurrahman saat dikonfirmasi melalui Kasi Aparatur Pemerintahan Desa Irham Nurdayanto mengatakan, di tahun 2019 terdata sebanyak 17 desa yang masih dalam kategori desa tertinggal. Sedangkan untuk desa berkembang sebanyak 147 desa dan desa maju sebanyak 16 desa.

Baca juga:  Tas Cantik Berbahan Tali Kur Karya Siswa SLB di Sampang Diminati Banyak Orang

Irham menegaskan, pada tahun 2020 tidak ada desa tertinggal. Yang ada hanya desa berkembang sebanyak 162 desa dan 18 desa maju.

Berikut 18 desa maju di Sampang:
  1. Desa Madulang, Kecamatan Omben
  2. Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung
  3. Desa Sokobanah Laok, Kecamatan Sokobanah
  4. Desa Banyuates, Kecamatan Banyuates
  5. Desa Tobai Barat, Kecamatan Sokobanah
  6. Desa Torjun, Kecamatan Torjun
  7. Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben
  8. Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah
  9. Desa Bajrasokah, Kecamatan Kedungdung
  10. Desa Moktesareh, Kecamatan Kedungdung
  11. Desa Batioh, Kecamatan Banyuates
  12. Desa Jatra Timur, Kecamatan Banyuates
  13. Desa Bira Tengah Kecamatan Ketapang
  14. Desa Bira Timur, Kecamatan Ketapang
  15. Desa Tamberu Laok, Kecamatan Sokobanah
  16. Desa Sokobanah Tengah, Kecamatan Sokobanah
  17. Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah
  18. Desa Pangarengan, Kecamatan Pengarengan

“Target di tahun 2021, 18 Desa berkembang masuk dalam kategori desa maju,” ucapnya, Selasa (29/12).

Terpisah, Kasi Pemberdayaan Lembaga dan Usaha Ekonomi DPMD Sampang Moh. Jufri didampingi Tenaga Ahli (TA) Pemberdayaan Ekonomi Desa, Mujib mengurai, di tahun 2019 terdapat sebanyak 17 desa tertinggal.

Berikut rinciannya:
  1. Desa Labuhan, Kecamatan Sreseh
  2. Desa Disanah, Kecamatan Sreseh
  3. Desa Ombul, Kecamatan Kedungdung
  4. Desa Pajeruan, Kecamatan Kedungdung
  5. Desa Batoporo Barat, Kecamatan Kedungdung
  6. Desa Palenggiyan, Kecamatan Kedungdung
  7. Desa Palanggaran Timur, Kecamatan Banyuates
  8. Desa Paopale Laok, Kecamatan Ketapang
  9. Desa Pancor, Kecamatan Ketapang
  10. Desa Karang Anyar, Kecamatan Ketapang
  11. Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang
  12. Desa Bira Barat, Kecamatan Ketapang
  13. Desa Ketapang Timur, Kecamatan Ketapang
  14. Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang
  15. Desa Paopale Daya, Kecamatan Ketapang
  16. Desa Rabiyan, Kecamatan Ketapang
  17. Desa Banyusokah, Kecamatan Ketapang
Baca juga:  Kantor DPRD Sumenep Akan Diajukan Menjadi Perpusda

“Namun 17 desa tersebut sudah masuk dalam kategori desa berkembang berdasarkan pada Indek Desa Mandiri (IDM),” katanya saat dikonfirmasi di ruangannya.

Dikatakannya, kedepan pihaknya akan terus meningkatkan IDM dengan melihat indikator yang ada. Pihaknya akan mendorong desa agar lebih menigkatkan potensi yang ada di desa.

“Misalkan BUMDes belum dibentuk, kita bentuk BUMDes-nya, misalkan juga kalau misal dibutuhkan MCK, kita rencanakan pembangunan MCK, dan potensi wisata yang ada. Intinya bagaimana kita merangsang agar menjadi desa maju hinggga menjadi desa mandiri,” tambahnya.

“Step by step lah, yang sudah masuk sebagai desa maju indikator apalagi yang perlu kita genjot maka akan terus kita genjot,” tegasnya. (RIF/MH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner auto