Demonstrasikan Karya Inovasi, Mahasiswa Poltera Ciptakan Alat Deteksi Banjir

0
134
Mahasiswa Poltera Deteksi Banjir
Mahasiswa Poltera mendemonstrasikan karya inovatifnya, mulai membuat digital key sampai alat pendeteksi banjir. (Foto: MH/MI)

maduraindepth.com – Mahasiswa semester dua Politeknik Madura (Poltera) mendemonstrasikan hasil karya inovatifnya. Berbagai macam karya dipamerkan oleh mahasiswa jurusan Teknik Listrik Industri ini untuk memenuhi tugas akhir semester.

Karya yang dipamerkan sebagai tugas akhir mata kuliah microcontroller itu diantaranya, membuat ‘digital key’ atau kunci digital. Dimana ‘digital key’ ini bisa digunakan untuk menghidupkan kendaraan bermotor menggunakan smartphone. Selain itu juga bisa untuk menyalakan lampu.

Kemudian membuat ‘digital key’ untuk pintu. Dengan kunci digital ini, bisa membuka pintu rumah, brankas dan lain sebagainya dengan cara menggunakan sidik jari, kartu atau nomor PIN. Artinya tidak perlu repot-repot membawa kunci konvensional.

Tak kalah menariknya, rupanya mahasiswa Poltera semester dua ini juga mampu membuat dispenser otomatis dan alat pendeteksi banjir.

Karya yang dihasilkan oleh puluhan mahasiswa Jurusan Teknik Listrik Industri itu merupakan karya individu. “Tidak ada kelompok, jadi murni hasil mereka sendiri-sendiri,” terang Sekretaris Tekhnik Listrik Industri Akh Arif Kurdianto alias Aak (35) kepada maduraindepth.com.

Menurut Aak, sapaan akrab Akh. Arif Kurdianto, untuk bisa mempelajari dan membuat berbagai macam karya itu, mahasiswa Poltera hanya membutuhkan waktu dua semester atau 16 pekan.

“Start pembuatannya adalah minggu ke 14 sampai minggu 16. Minggu ke 17-nya mahasiswa mendemonstrasikan hasil karyanya dan dinilai,” jelasnya.

Mahasiswa poltera khususnya jurusan Teknik Listrik Industri, lanjut Aak, di akhir semester setelah Ujian Akhir Semester (UAS) dituntut wajib menghasilkan paling sedikit satu produk.

Aak menambahkan, mahasiswa butuh wadah untuk menyalurkan bakat dan minatnya. Sementara di Kota Sampang sendiri untuk membuat produk-produk seperti yang dihasilkan mahasiswa Poltera masih kesulitan mendapatkan komponennya.

“Mahasiswa Poltera harus membeli komponennya ke Surabaya,” pungkasnya. (MH/AW)