Bupati Pastikan Terduga Teroris Bukan Asli Warga Sampang

0
137
Bupati Sampang H Slamet Junaidi saat diwawancarai awak media. (AW/MI)

maduraindepth.com – Bupati Sampang H Slamet Junaidi memastikan bahwa terduga teroris yang diamankan oleh Densus 88 Antiteror di Kecamatan Sokobanah, Sampang, Kamis (22/8/2019) malam bukan asli warga Sampang. Keduanya ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat jaringan ISIS.

“Mereka bukan asli warga Sampang, mereka merupakan pendatang. I itu berasal dari Jombang sementara HS berasal dari Jawa Tengah,” ujarnya, Jum’at (23/8).

Menurut Bupati yang akrab dipanggil H Idi tersebut, dua warga yang ditangkap Densus 88 merupakan sepasang suami istri berinisial I dan HS. Keduanya tinggal di Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah Kabupaten Sampang.

I yang merupakan istri HS berprofesi sebagai dokter gigi dan bertugas di Puskesmas Batulenger. Sementara pekerjaan si suami, HS, belum jelas. Namun, belakangan diketahui, HS merupakan ahli bekam setelah ditemukan kartu identitas anggota Bekam Indonesia.

Pemkab Sampang Akui Kecolongan

Bupati H Slamet Junaidi mengakui Pemerintah Kabupaten Sampang kecolongan setelah Densus 88 Antiteror melakukan penggerebekan terhadap pasangan suami-istri yang diduga terlibat jaringan ISIS di Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Sampang, Jawa Timur, Kamis (22/8/2019).

“Ini kita kecolongan sebenarnya kalau memang itu betul-betul dia itu anggota ISIS. Kita kecolongan,” kata H Idi, melalui telepon selularnya, Jumat (23/8/2019).

Belajar dari peristiwa tersebut, Slamet menegaskan akan berkoordinasi dengan Polres dan Kodim 0828 Sampang, serta ulama dan tokoh masyarakat setempat, untuk mengantisipasi pergerakan jaringan terduga teroris tersebut.

“Karena tugas kita ini bukan diserahkan, dijalankan oleh polisi. Tapi bagaimana kita selaku pemangku jabatan ini bekerja sama dengan semua pihak untuk mengantisipasi gerakan ISIS tersebut,” ucap dia.

Pihaknya berjanji, bersama kepolisian dan Kodim akan memperketat pengamanan di Kota Bahari dan akan terus memantau perkembangan dari orang-orang yang diduga terlibat jaringan ISIS.

Menurut dia, Kecamatan Sokobanah memang sudah ditetapkan sebagai daerah rawan. Selain maraknya peredaran narkoba, dia juga baru tahu bahwa di sana ada warga yang terafiliasi dengan jaringan ISIS.

“Makanya kita akan rapatkan dengan pihak polres, kodim dan ulama. Selain kita mengantisipaai pergerakan atau peredaran narkoba, pergerakan jaringan ISIS juga, karena memang ISIS dilarang,” pungkasnya. (AW/AM/AJ)