Berkenalan dengan Siti Aisyah, Srikandi KPU Sampang

0
447
Siti Aisyah, Komisioner KPU Sampang divisi Teknis (AR/MI)

maduraindepth.com – Saat KPU RI menetapkan 5 besar nama komisioner KPU kabupaten Sampang beberapa waktu lalu, banyak yang kaget ketika Siti Aisyah seorang “Srikandi” menempati peringkat pertama.

Berdasarkan surat penetapan KPU RI nomor 1052/PP.06-kpt/5/KPU/VI/2019 Siti Aisyah berada di peringkat pertama daftar 5 orang komisioner KPU Sampang terpilih periode 2019-2024.

“Meraih peringkat satu di luar ekspektasi saya mas,” ujarnya, mengawali perbincangan khusus dengan Madura Indepth, Kamis (20/6) di kantor KPU Sampang.

Bersama Aliyanto dan Taufiq Rizqon, Aisyah, sapaan familiarnya, menjadi spektrum baru penyelenggaraan demokrasi di kabupaten Sampang dalam lima tahun ke depan.

Pengalaman dalam Kepemiluan

Dalam kepemiluan, kiprah perempuan asal Dusun Seneng, Desa Nepa Kecamatan Banyuates Kabupaten Sampang, Madura, ini terbilang cukup moncer.

Pada pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2018, Aisyah menjadi panitia pemilihan kecamatan (PPK) Banyuates, divisi hukum dan pengawasan. Begitu juga dalam pemungutan suara ulang (PSU) pilkada Sampang.

Karirnya sebagai penyelenggara pemilu terus berlanjut. Dalam gelaran pemilu 2019 yang lalu, dia kembali terpilih sebagai PPK Banyuates divisi SDM dan partisipasi masyarakat (Parmas).

Ketertarikannya pada demokrasi dan kepemiluan tak lepas dari keinginan dia untuk ikut serta membangun pondasi demokrasi yang baik di daerah kelahirannya. Hal itu, tutur Aisyah, berawal  saat dirinya mendapatkan hak memilih (mencoblos) pertama kali pada usia 17 tahun.

“Berawal dari situ saya tertarik untuk menjadi bagian dari penyelenggara pemilu,” ucap perempuan yang dikenal sebagai pribadi yang low profile ini.

Perempuan yang tanggal kelahirannya sama dengan ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini mengaku bahwa dulu dirinya terobsesi menjadi penyelenggara karena bagi dia hal itu sesuatu yang keren dan penuh tantangan. Dari situ kemudian dia terus memotivasi diri agar suatu saat nanti manjadi penyelenggara.

“Alhamdulillah, keinginan saya dikabulkan oleh yang Maha Kuasa,” tutur alumni UIN Sunan Ampel Surabaya ini kepada Madura Indepth.

Raih Nilai Unas Tertinggi Se Madura

Secara akademis, prestasi perempuan kelahiran 17 Agustus 1988 tersebut terbilang sangat menonjol. Diantaranya, memperoleh nilai ujian nasional (Unas) tertinggi untuk tingkat SMA/SMK dan sederajat se Madura.

Raihan prestasi akademis tidak membuat Aisyah besar kepala dan sombong. Dia tetap bersikap rendah hati dan low profil.

“Itu karunia yang harus disyukuri, bukan untuk dibangga-banggakan,” ungkap ibu dua anak tersebut.

Saat di bangku kuliah, istri dari M. Tajib Khobir Ismail ini juga aktif di organisasi dakwah tv. Kini, anggota Ikatan Sarjana NU (ISNU) ini masih tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana komunikasi penyiaran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.

Banyak pengalaman dan ilmu yang didapat oleh alumni SMK Negeri 1 Sampang ini. Kemampuan dan pengalamannya di berbagai organisasi kepemiluan dan non kepemiluan menurut dia akan menjadi modal utama dalam menjalankan tugas sebagai penyelenggara di tingkat kabupaten.

“Sebelum di PPK dan KPU sekarang, saya pernah bekerja di kantor kementerian Agama (Kankemenag) Sampang sebagai tenaga kontrak,” tuturnya.

Namun, kata Aisyah, modal utama sebagai komisioner KPU adalah pengalamannya saat menjadi PPK pilkada dan PSU tahun 2018 serta pemilu serentak tahun 2019.

“Itu modal yang paling berharga bagi saya dalam mengarungi tugas berat ini,” tukas anak kedua dari Mahfudz, pensiunan ASN Kemenag Sampang, dan Khofifah.

Aisyah optimis, dengan peningkatan kinerja serta dedikasi dari lima komisioner yang baru, ditambah dukungan dari masyarakat dan seluruh stakeholder, kualitas pemilu di Sampang kedepan semakin baik. Partisipasi pemilih meningkat dan angka pelanggaran akan menurun.

“Persoalan pada pemilu sebelumnya akan kita evaluasi bersama sehingga tidak akan terulang lagi,” tutupnya. (AR/AW)