Dari Seribu Rupiah ke Jalan Beton: Ikhtiar Warga Tlagah Membangun Akses Desa

Kondisi jalan desa Tlagah pasca dibangun menggunakan dana swadaya masyarakat. (Foto: Purnawihadi/MID)

maduraindepth.com — Pagi belum tinggi ketika sejumlah warga Desa Tlagah, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, sudah berdiri di tepi jalan. Di tangan mereka, kotak amal sederhana. Dari sinilah jalan desa itu bermula.

Tak ada proyek besar, tak pula menunggu janji bantuan. Warga memilih bergerak sendiri. Uang receh dikumpulkan dari orang yang ikhlas beramal.

Pembangunan jalan rabat beton di desa ini diprakarsai tokoh masyarakat setempat, Asri. Hingga awal 2026, sekitar 320 meter jalan telah terbangun. Panjangnya memang belum seberapa, tapi bagi warga, itu adalah awal dari perubahan yang lama dinanti.

“Kalau terus menunggu, jalan akan tetap rusak. Aktivitas warga juga terganggu,” kata Asri, suatu siang di lokasi pembangunan, Sabtu (24/1/2026).

Rusak Bertahun-tahun

Bangun jalan swadaya
Kondisi jalan desa saat dalam proses pembangunan. (Foto: Purnawihadi/MID)

Jalan itu dulunya berlubang dan becek saat hujan. Anak-anak berangkat sekolah dengan sepatu kotor, pengendara kerap tergelincir, dan roda ekonomi berjalan tersendat. Kondisi itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

Dari situlah kesepakatan lahir. Warga kompak memperbaiki dengan kemampuan sendiri.

Sumbangan dikumpulkan dari hal paling kecil. Seribu, dua ribu rupiah. Nominal yang nyaris tak terasa, tapi dikumpulkan setiap hari.

Perlahan, angka itu membesar. Dalam sehari, dana yang terkumpul bisa mencapai Rp 2 juta.

Di tepi jalan, para relawan berdiri berjam-jam. Panas dan lelah bukan soal utama.

Baca juga:  Pemdes Pulau Mandangin Santuni 170 Anak Yatim

Tak hanya warga setempat, bantuan juga datang dari perantau asal desa itu. Dari kota-kota besar hingga luar negeri, mereka ikut menyumbang, menghubungkan kampung halaman dengan rasa memiliki yang tak putus.

Untuk satu titik jalan, kata Asri, dibutuhkan sekitar Rp 100 juta. Seluruhnya berasal dari swadaya. Tak ada kontraktor besar, tak ada proyek pemerintah. Yang ada hanyalah kerja bersama dan kepercayaan.

Warga memilih rabat beton agar jalan lebih tahan lama. Mereka tak ingin kerja keras itu cepat rusak.

Kini, jalan yang dulu rusak mulai berubah. Anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa khawatir, warga lebih mudah menuju masjid, dan aktivitas ekonomi perlahan menggeliat kembali.

Jalan Desa Dibangun dari Keringat Warga

Warga mengaku bangga dengan hasil swadaya pembangunan jalan rabat beton. (Foto: Purnawihadi/MID)

Di bagian lain Desa Tlagah, cerita serupa tumbuh dalam skala lebih besar. Jalan penghubung antar desa yang mengarah ke Montor, Nagasari, Tebana, hingga Jalan Raya Banyuates pernah rusak hampir satu dekade.

Saat hujan turun, genangan air menutup badan jalan. Akses utama warga nyaris lumpuh.

“Kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Rofi, warga setempat.

Kesabaran warga habis di ujung penantian. Mereka kembali memilih jalan yang sama, yakni swadaya.

Koordinator pembangunan, Sumarto, menyebut keputusan itu diambil karena kebutuhan sudah mendesak. Menunggu bantuan bukan lagi pilihan.

Dana dikumpulkan dari berbagai arah. Mulai amal di pinggir jalan, sumbangan tokoh masyarakat, hingga kontribusi pengusaha.

Baca juga:  Pembangunan Jalan Rabat Beton Pulau Mandangin Dilanjutkan, Pj Kades; Demi Kenyamanan Akses Masyarakat

Dalam tiga bulan, sambung Sumarto, puluhan juta rupiah terkumpul. Totalnya mencapai sekitar Rp 800 juta.

Jalan sepanjang hampir satu kilometer pun dibangun melalui dana tersebut. Lebarnya lima meter, menggunakan beton readymix agar lebih tahan lama.

Di balik pembangunan itu, ada kerja sunyi para relawan. Mereka berdiri di jalan, hari demi hari, tanpa kepastian selain keyakinan bahwa usaha itu akan sampai tujuan.

Kini, jalan itu telah terhubung. Warga melintas lebih mudah. Distribusi barang lancar. Anak-anak pergi sekolah tanpa hambatan berarti.

Sebagai penutup, warga menggelar tasyakuran sederhana. Bukan sekadar syukuran atas jalan yang selesai, melainkan juga atas kebersamaan yang terjaga.

Di Desa Tlagah, jalan itu bukan hanya beton. Ia adalah jejak dari seribu rupiah yang dikumpulkan dengan sabar. Mereka membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari siapa saja. (Poer/MH)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *