maduraindepth.com – Siang itu, matahari menggantung tinggi di atas Dusun Pale, Desa Paopale Daya, Kabupaten Sampang. Di sepanjang jalan yang belum sepenuhnya selesai, sejumlah warga tampak bekerja. Ada yang menyiapkan material, ada pula yang meratakan permukaan beton.
Di situ, tidak ada papan proyek, tak ada alat berat besar. Yang ada hanya kerja bersama.
Jalan Dibangun Bukan dari Anggaran Pemerintah
Sejak Februari 2025, warga mulai mengerjakan rabat beton secara swadaya. Targetnya tidak kecil, hampir dua kilometer dengan lebar sekitar 4,5 meter. Hingga kini, sebagian ruas telah terbentuk, sebagian lain masih dalam proses.
Koordinator proyek swadaya, Suhur, mengatakan gagasan itu lahir dari percakapan sederhana para pemuda desa. Mereka ingin jalan di kampungnya tak lagi tertinggal dari desa lain.
“Awalnya dari pemuda-pemuda yang ingin jalan desa ini bagus. Dari situ kami gotong royong dengan warga. Lama-lama ada donatur dan penggalangan amal,” ujar Suhur ditemui di lokasi, pada awal tahun 2026.
Keinginan itu perlahan berubah menjadi gerakan. Warga mulai menyumbang sesuai kemampuan. Ada yang memberi tenaga, ada yang menyisihkan uang.
Di tepi jalan, kotak amal diletakkan. Siapa pun yang melintas boleh ikut berpartisipasi.
Hasilnya tidak selalu besar. Dalam sehari, dana yang terkumpul berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.
Namun pada masa awal, jumlahnya sempat mencapai Rp 2 juta per hari. Dari aliran kecil yang terus dijaga itu, dana pembangunan terkumpul hingga sekitar Rp 600 juta.
Angka itu baru cukup untuk membangun sekitar satu kilometer jalan.
Pilihan pada rabat beton bukan tanpa alasan. Kontur jalan yang menurun dan aliran air yang cukup besar membuat warga membutuhkan konstruksi yang lebih kuat. Mereka tak ingin jalan yang dibangun dengan susah payah cepat rusak kembali.
Di Dusun Pale, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi aktivitas warga.
Bertahun-tahun sebelumnya, kondisi jalan rusak parah, berlubang, licin saat hujan, dan sering tergenang air. Mobilitas tersendat, pekerjaan terganggu, dan anak-anak harus lebih berhati-hati saat berangkat sekolah.
Kini, perubahan mulai terlihat, meski belum sepenuhnya rampung.
Seorang ibu rumah tangga setempat mengingat betul kondisi jalan sebelum dibangun. Baginya, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan kerja bersama seluruh warga.
“Dulu jalannya rusak parah, kalau hujan susah dilewati. Sekarang alhamdulillah sudah bagus,” ucapnya.
“Kami ikut nyumbang, ikut minta amal, bahkan ikut kerja. Di sini semua ikut, laki-laki dan perempuan,” sambungnya.
Di desa ini, batas antara pekerja dan warga nyaris tak ada. Laki-laki dan perempuan terlibat. Mereka datang bukan karena upah, melainkan karena kebutuhan yang sama.
Pembangunan masih berjalan. Jalan belum sepenuhnya tersambung. Namun bagi warga Paopale Daya, setiap meter yang selesai adalah kemajuan.
Di tengah keterbatasan, mereka memilih tidak menunggu. Jalan itu tumbuh dari iuran kecil dan keringat bersama. (Poer/MH)














