Waspada Bencana La Nina Di Sampang, Relawan Bentuk Agen Komunikasi Kebencanaan

La Nina Sampang
Puluhan relawan kebencanaan mulai Bagana dari Banser, Brigade Penolong dari Pramuka, serta Forum PRB saat berdiskusi kesiapsiagaan bersama BPBD menghadapi potensi terjadinya La Nina di Sampang. (Foto : Alimuddin/MI)

maduraindepth.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang, Madura, Jawa Timur jalin komunikasi dan koordinasi bersama Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) dan relawan kebencanaan setempat, Selasa (9/11).

Diskusi berlangsung di Kantor BPBD Sampang. Kegiatan itu bertujuan memetakan langkah-langkah nyata dalam mengantisipasi potensi terjadinya bencana La Nina di Kabupaten Sampang.


Menanggapi hal tersebut, Kepala BPBD Sampang Asroni mengatakan, pihaknya terus melakukan komunikasi bersama puluhan relawan kebencanaan dengan kesiapsiagaan. Mulai pra, saat dan pasca bencana tiba.

“Para relawan yang hadir diharapkan dapat membentuk agen informasi di semua desa atau tempat tinggalnya,” ujarnya, Selasa (9/11).

Diketahui, berdasarkan keterangan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, perubahan iklim lebih ekstrim atau terjadi kondisi tidak biasa dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Kami mengantisipasi agar kejadian di Batu, Malang, Lamongan, Jember, Tuban, supaya tidak terjadi di Sampang. Toh semisal terjadi, supaya tidak parah dan tidak memakan korban,” paparnya.

Soal relawan menjadi agent informasi kebencanaan, Asroni menjelaskan, informasi perubabahan iklim dan prediksi yang akan berpotensi terjadi sudah disampaikan oleh BMKG provinsi. Sehingga keberadaan agen informasi bisa menyampaikan kepada masyarakat luas.

“Harus intens, informasi kebencanaan bisa disampaikan melalui media sosial, seperti grup Whatsapp, Facebook dan media sosial lainnya,” ucap Asroni.

Baca juga:  Peringati Bulan Bahasa dan Sastra, Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Gelar Karnaval Budaya

Sementara Ketua Forum PRB Sampang Moh Hasan Jailani menyebutkan, yang perlu ditekankan dalam menghadapi perubahan musim La Nina, yaitu dengan melakukan sosialisasi kebencanaan seperti woro-woro via medsos dan sosialisasi secara langsung.

“Dampak iklim ekstrim La Nina itu perlu diantisipasi, karena sudah banyak peristiwa bencana yang sudah terjadi, seperti terakhir di Kota Batu, Malang,” terangnya.

Lelaki yang akrab disapa tretan Mamak itu menyampaikan, salah satu akibat dari La Nina yaitu intensitas air hujan naik sekitar 20 hingga 70 persen. Sebab itu pihaknya meminta semua kalangan untuk tidak menganggap remeh dampak yang akan ditimbulkan La Nina.

“Kalau FPRB sendiri lebih banyak dalam urusan pra bencana (mitigasi) dan saling sinergitas bersama para relawan. Jadi para relawan lebih aktif menginformasikan tentang kebencanaan,” jelasnya.

Dalam menghadapi potensi kebencanaan, pihaknya berharap agar ego sektoral dihilangkan dari berbagai kalangan baik masyarakat maupun Organisasi Perangkat Daerah.

“Sinergitas dan komunikasi sangat perlu, ketika ada bencana kita harus bergerak bareng. Supaya jelas siapa jadi komando dan harus melakukan apa, sehingga relawan pun yang ikut membantu tidak bingung,” tandasnya. (Alim/BAD)