Soal Paus Terdampar di Bangkalan, Kiai Itqon: Jangan Berfikir Jadi Pertanda Buruk

Paus Terdampar Kiai Itqon
Ketua PCNU Sampang KH. Mohammad Itqon Bushiri. (FOTO: Arief Tirtana/MI)

maduraindepth.com – Puluhan ikan paus yang terdampar di Pantai Modung, tepatnya di Desa Paterem, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur mendapat tanggapan dari Ketua PCNU Sampang, KH. Mohammad Itqon Bushiri.

Kiai Itqon menilai, terdamparnya ikan-ikan besar itu lantaran diduga peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau. Sehingga terjadi migrasi ke tepian pantai.


“Peralihan musim itu berpengaruh pada temperatur air laut sehingga menyebabkan migrasi paus untuk mencari makanan dengan mengikuti perubahan temperatur air,” tuturnya, Ahad (21/2).

Kendati demikian, Kiai Itqon juga mengungkapkan bahwa terdapat sebagian masyarakat yang percaya kepada mitos. Terdamparnya hewan laut tersebut, oleh sebagian masyarakat diyakini bisa menjadi sebuah pertanda akan terjadinya gempa.

“Hal tersebut terjadi di Filipina, dimana penduduk lokal Negros, Filipina, percaya bahwa adanya ikan di laut dalam yang mati lalu terdampar di pantai menjadi sebuah pertanda akan terjadinya bencana besar,” tuturnya.

“Mereka mengklaim bahwa peristiwa ini hanyalah sebuah kepercayaan takhayul karena tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan kebenaran tentang kepercayaan tersebut,” sambungnya.

Terkait paus yang terdampar di bibir Pantai Modung, Bangkalan, Kiai Itqon meminta masyarakat di Madura mengedepankan prasangka baik atau husnudzon ketimbang berprasangka buruk (suudzon). Yakni, puluhan paus yang terdampar tersebut dikarenakan pengaruh dari temperatur air laut, sehingga menyebabkan migrasi paus untuk mencari makanan dengan mengikuti perubahan temperatur air.

Baca juga:  Gubernur Jatim Lakukan Pencarian Titik Nol Sudetan Kali Kamuning Bebas Banjir

“Sehingga paus-paus itu bermigrasi lalu terdampar. Jadi kita jangan berfikir terdamparnya paus-paus itu sebagai pertanda akan terjadi bencana. Namun apabila benar terjadi bencana maka hal itu merupakan kehendak Allah yang maha kuasa,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Sampang Farmadi. Ia mengatakan, ikan paus jenis pilot tersebut biasanya melakukan migrasi dari perairan dingin menuju perairan hangat.

Terkait mitos di balik terdamparnya puluhan ikan paus tersebut, pria kelahiran pulau mandangin yang memiliki sertifikat penyelam itu menuturkan hanya Allah SWT yang tahu.

“Mereka bermigrasi dari perairan dingin menuju perairan hangat,” ujarnya. (RIF/MH)